Rabu, 05 Februari 2014

Ingin Bertobat? Ini Caranya

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Erdy nasrul
Mengingat dosa di masa lalu merupakan langkah awal bertobat.

Dalam tradisi olah sprititual, tobat memiliki kedudukan yang sangat strategis. Ibarat sebuah bangunan, tobat seperti sebuah pintu gerbang menuju ruang-ruang kamar yang penuh kedamaian, teduh, dan ketenangan.

Definisi tobat sangat beragam. Dalam tradisi tasawuf, salah satunya seperti yang pernah diulas oleh Ali bin Utsman al-Hujwiri dalam Kasyf al-Mahjub.
Tokoh yang bernama lengkap Abu al-Hasan Ali bin Utsman al-Jullabi al-Hujwiri al-Ghaznawi itu menjelaskan tobat merupakan tahap permulaan menuju Allah SWT.

Generasi salaf memulakan amalan mereka dengan tobat. Tujuannya adalah membersihkan diri. Mereka berikrar meninggalkan maksiat, menyesali perbuatan nista di masa lalu, dan bertekad tidak akan mengulangi kekeliruan tersebut.

Tobat, kata sosok kelahiran Ghazni Afghanistan 990 M itu, secara tidak langsung akan memberi kesan positif kepada jiwa. Tobat merupakan kebangkitan hati dari perbuatan jahat. Yang muncul kemudian ialah perbuatan baik.

Apabila tindakan kesadaran secara aplikatif mewarnai kehidupan, nantinya akan muncul keinginan untuk bertobat, beriman, dan beramal saleh. Bahkan, mengutip pernyataan pemuka sufi, Imam Junaid al-Baghdadi, tobat bisa menghapus dosa seseorang.

Prinsip tobat, al-Hujwiri mengungkapkan, yakni usaha untuk memahami diri terhadap ketiadaan kebaikan. Hati kemudian diisi dengan amal baik serta dijauhkan dari dosa. Perbuatan yang mendatangkan pahala, kecintaan, dan keridhaan Allah menjadi prioritas.

Allah berfirman, “Bertobatlah wahai orang-orang yang beriman agar kamu beruntung.” (QS an-Nur [24] : 31). Jika bertobat maka Allah akan memberikan cinta-Nya (QS al-Baqarah [2]: 222). Tidak hanya itu, rahmat Allah juga akan datang. Cobalah lihat surah al-An’am ayat 54.

Tobat hakiki merupakan ketaatan dan integrasi. Diri akan meninggalkan dan melepaskan ikatan-ikatan yang dapat merusak hati. Tobat yang benar tidak membiarkan sisa pengaruh maksiat bersarang dalam dirinya, baik secara lahir maupun batin.

Al-Hujwiri mengutip perkataan pentolan sufi di abad kedua Hijriyah, Yahya bin Mu’az, “Satu penyelewengan saja sesudah bertobat, sama saja dengan 70 penyelewengan sebelum tobat. Tobat sejati menjadi perisai agar teguh.”

Ada beberapa syarat sah tobat. Menurut tokoh yang wafat di Lahore, Pakistan, tersebut tobat tidak sah, kecuali dengan menyadari dan mengakui dosa. Oleh sebab itu, jangan sertai tobat dengan kesalahan serupa. Apalagi, menempatkan kekeliruan itu sebagai inspirasi orang lain.

Tobat harus menjadi titik balik seseorang yang melahirkan kesadaran terhadap segala kekurangan atau kesalahannya. Lalu, menetapkan tekad dan azam yang disertai dengan amal perbuatan untuk memperbaiki.

Langkah tobat

Lantas, bagaimana cara untuk memulai pertobatan? Menurut al-Hujwiri, tobat dapat dilakukan dengan cara menjauh dari orang-orang yang kerap berbuat jahat. Berteman dengan golongan semacam ini bisa menjerumuskan ke jalan yang sama.

Jalan spiritual melalui tobat dapat memisahkan diri dari kecenderungan berperilaku jahat dengan mendekatkan hati kepada iman dan amal salih.

Tokoh yang tutup usia pada 1077 M itu menegaskan bagian dari tobat ialah memisahkan ketakutan daripada kemuliaan duniawi. Tobat semata karena manifestasi ketaatan terhadap Allah dan Rasul-Nya.

Bila dilakukan demi pamor dan pencitraan semata maka terancam sia-sia. Dalam tingkatan tertentu, seseorang yang bertobat akan melupakan dosa dan kesalahan, lalu digantikan dengan rasa cinta kepada Allah.

Tetapi memang, kata sosok yang juga dikenal dengan Daata Ganj Bakhsh itu, bagi sebagian kalangan mengingat dosa masa silam setelah bertobat merupakan perwujudan dari tobat.

Pada dimensi ketiga ini, seseorang akan tetap menghindarkan diri dari perbuatan buruk dan tercela. Ia tidak akan mengulangi perbuatan yang buruk tersebut. “Ia tahu itu adalah dosa di atas dosa,” katanya.

Menurut Sahl at-Tusturi, bentuk tobat itu bisa ditempuh dengan cara tidak gampang melupakan dosa pada masa lalu. Bertekad kuat meninggalkan jalan golongan yang dimurkai Allah SWT. Tekad tersebut berbuah hidayah agar tetap konsisten di jalur-Nya.
Tobat, yakni menjadikan diri terhindar dari perilaku dosa. Pembersihan diri lewat tobat ini mengantarkan seseorang pada tangga-tangga capaian berikutnya, seperti zuhud, sabar, dan akhirnya kedekatan dengan Sang Khaliq.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar