Rabu, 08 Juli 2026


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pada suatu hari, Nabi Muhammad SAW berpesan kepada sahabat-sahabatnya bahwa tidak ada makanan yang lebih baik daripada apa-apa yang diperoleh dari keringat sendiri. Beliau juga mengingatkan tentang salah satu contoh baik: Nabi Daud AS tidak pernah makan kecuali dari hasil tangannya sendiri (HR Bukhari).

Abdurrahman bin Auf, setibanya di Madinah dalam perjalanan hijrah dari Makkah, ditawari oleh Sa'ad bin Rabi' untuk mengambil separuh dari kekayaannya. Namun, ia tidak segera menerima tawaran itu. Ia hanya meminta agar ditunjuki jalan ke pasar untuk berdagang.

Seorang Mukmin adalah pribadi yang selalu mandiri, bekerja keras, tidak segera menyerah pada keadaan, dan tidak mudah tergantung kepada orang lain. Baginya, sempitnya lapangan kerja bukan penghalang, melainkan pemicu semangat untuk membuka lahan-lahan baru yang lebih menjanjikan.

Dalam jiwanya terpatri firman Allah SWT, ''Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.'' (QS 13: 11).

Untuk membangun kemandirian ini, Rasulullah SAW selalu menegaskan kepada sahabat-sahabatnya bahwa tangan yang di atas (memberi) lebih baik daripada tangan yang di bawah (mengemis atau meminta). (HR Bukhari-Muslim).

Pernyataan ini tidak saja Rasulullah sampaikan di atas mimbar, melainkan juga dalam pertemuan secara pribadi dengan sahabat-sahabatnya. Dalam sebuah riwayat, seperti diceritakan Abu Hurairah, Rasulullah SAW suatu hari menyampaikan kepada sahabat-sahabatnya hakikat kemiskinan dan kekayaan.

Kata beliau, yang disebut miskin bukan mereka yang tidak punya sesuap atau dua suap makanan, tidak punya sebiji atau dua biji kurma, melainkan mereka yang meminta-minta (HR Bukhari-Muslim).

Adapun yang disebut kaya, masih kata Rasulullah SAW, bukan mereka yang mempunyai harta yang melimpah, melainkan mereka yang puas atas pemberian Allah sekalipun sedikit (HR Bukhari-Muslim).

Dalam hadis lain, Rasulullah SAW bersabda, ''Berbahagialah mereka yang masuk Islam. Mereka dikaruniai kemampuan untuk tidak mengemis, dan selalu puas dengan apa yang diberikan Allah kepadanya.'' (HR Muslim). Auf bin Malik menceritakan bahwa ia --dengan ditemani beberapa orang-- pernah menemui Rasulullah SAW.

Ketika itu Rasulullah tiba-tiba mengajak mereka berbaiat. Mereka kaget karena merasa pernah melakukan baiat. Namun, karena Rasulullah mengulang ajakannya itu hingga tiga kali, akhirnya mereka mengajukan tangannya untuk baiat.

Yang menarik, setelah baiat untuk bertauhid sekaligus meninggalkan syirik, serta baiat melaksanakan shalat lima waktu, Rasulullah berbisik dengan suara pelan tapi tegas, mengucapkan baiat untuk tidak meminta-minta kepada orang lain. (HR Muslim).

Sikap (baiat) Rasulullah yang demikian itu tidak hanya membangun komitmen agar kita selalu mandiri dalam menghadapi kehidupan sehari-hari. Tapi, juga memberi penekanan agar kita sebagai umatnya bersinergi secara maksimal untuk membangun masyarakat yang ber-ta'wun fil birri wat-taqwa, saling tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan; bukan saling menindas dan menzalimi

Selasa, 16 Juni 2026

Apa Kebahagiaan yang Sebenarnya di Dunia? Apakah Cuma Kekayaan dan Keturunan?

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Manusia terus mencari kebahagiaan. Namun, banyak di antara mereka yang tersesat dari jalan menuju kebahagiaan yang sejati. Mereka berlari mengejar fatamorgana yang tidak memiliki hakikat.

Mereka mengira bahwa kebahagiaan terletak pada harta dan kedudukan, pada pemuasan hawa nafsu dan kemewahan, atau pada popularitas serta kenikmatan dunia yang fana. Padahal semua itu hanyalah kebahagiaan semu yang menipu hati dan melalaikan akal.

Banyak orang yang memiliki harta melimpah dan kekayaan berlimpah, tetapi tidak menunaikan hak-hak yang ada pada hartanya.

Mereka justru menjalani kehidupan yang penuh kesengsaraan dan kegelisahan, bahkan sebelum datangnya kehidupan akhirat.

Mengapa demikian? Karena seluruh hidup mereka dihabiskan untuk menjaga, mengembangkan, dan mempertahankan kekayaannya. Mereka terus dihantui rasa cemas dan takut kehilangan harta yang dimiliki.

Betapa banyak orang yang memiliki kekayaan hingga miliaran, tetapi hidupnya dipenuhi kecemasan. Mengapa mereka begitu takut?

Mengapa hati mereka tidak pernah tenang? Karena mereka selalu khawatir hartanya lenyap, dirampas oleh musibah, krisis ekonomi, peperangan, atau berbagai peristiwa yang dapat menghilangkan seluruh kekayaannya.

Berapa banyak orang kaya yang menjadi korban penculikan atau pembunuhan karena kekayaannya. Bahkan, tidak sedikit orang yang justru kehilangan kebebasan akibat hartanya. Mereka tidak dapat berjalan dengan leluasa, tidak bisa bepergian sesuka hati, bahkan tidak dapat tidur dengan tenang.

Semua itu terjadi karena kekayaan yang mereka miliki. Lebih dari itu, tidak sedikit orang yang suatu ketika memiliki harta berlimpah, namun kemudian seluruh kekayaannya lenyap karena berbagai sebab, sehingga sisa hidupnya dijalani dalam penderitaan dan kesedihan.