Minggu, 16 Maret 2014

Demi Bidadari Surga

Ilustrasi
Ilustrasi

Oleh: Rosita Budi Suryaningsih

Saat menghadapi lawan kesepuluh, sang pemuda syahid.

Dalam setiap peperangan atas nama Allah, banyak umat Muslim yang gugur. Setiap mujahid yang yakin dengan Allah dalam perang dijanjikan surga dengan penuh kenikmatannya.

Dalam kitab al-Wa'adh wa ar-Raqaiq dari Abdul wahid bin zaid, kisah ini dijelaskan. Saat itu, pasukan Abdul Wahid sedang bersiap untuk berperang melawan musuh. Kisah ini terjadi pada zaman keemasan Islam sekitar zaman dinasti bani Umayyah atau bani Abbasiyah.

Saat itu, beberapa sahabatnya segera bersiap dan membacakan beberapa ayat Alquran, yaitu surat at-Taubah ayat 111. Waktu itu Abdul Wahid melihat seorang pemuda belia yang usianya sekitar 15 tahun. Ayah pemuda tersebut telah meninggal dan mewariskan harta yang banyak padanya.

Pemuda itu bertanya pada Abdul Wahid. "Benarkah Allah akan membayar jiwa dan harta orang-orang mukmin dengan surga?" tanya sang pemuda. Ia pun membenarkannya.

Sang pemuda pun kemudian menyatakan dirinya sanggup menyerahkan jiwa dan hartanya demi surga, dengan maksud ingin ikut jihad berperang.

Abdul Wahid pun berkata, "Wahai saudaraku, sesungguhnya tebasan pedang itu sangat dahsyat, sedangkan engkau masih sangat belia. Aku khawatir engkau tidak mampu bersabar dan akhirnya lemah ketika menghadapi ujian itu."

Sang pemuda tetap memantapkan hatinya untuk berjihad di jalan Allah. "Wahai Abdul Wahid, sesungguhnya aku telah menjual jiwaku kepada Allah dengan imbalan surga. Dan, aku sangat bergembira bahwa aku telah bersumpah kepada Allah dengan sungguh-sungguh untuk menyerahkan diriku kepada-Nya," katanya menegaskan.

Mendengar perkataan pemuda tersebut, Abdul Wahid merasa jiwanya berubah menjadi kerdil dan lalai. Ia membayangkan anak laki-laki semuda itu mampu berpikir dengan indahnya.

Kemudian, pemuda itu segera mengambil seluruh harta yang dia miliki dan dia infakkan semuanya, kecuali seekor kuda dan persenjataan yang dia miliki. Ketika datang waktu keluar untuk berjihad, pemuda itulah orang yang pertama kali maju untuk berjihad.
 
Mereka mulai melakukan perjalanan menuju medan perang dan selama itu pula si pemuda selalu memenuhi harinya dengan berpuasa di siang hari serta menegakkan qiyamulail di malam harinya.

Pemuda tersebut juga yang memenuhi keperluan semua perbekalan dan kuda-kuda tunggangan pasukan. Dia juga yang berjaga ketika pasukan yang lain tidur. Terus-menerus pemuda itu melakukan amalnya sampai pasukan tersebut menghadapi musuh di negeri Romawi.

Suatu hari sang pemuda pun berkata, "Betapa rindunya aku pada al-aina al-mardhiyyah (nama panggilan untuk bidadari surga." Abdul Wahid pun mempertanyakan apa yang dimaksudkan oleh pemuda tersebut.

Sang pemuda kemudian bercerita bahwa tadi ia sempat mengantuk dan tertidur sekejap. Kemudian, ia merasa tiba-tiba seorang laki-laki mendatanginya. Laki-laki itu berkata pada sang pemuda, "Pergilah engkau menuju al-aina al-mardhiyyah."

Laki-laki itu kemudian membawa sang pemuda menuju sebuah taman yang di dalamnya terdapat sungai yang alirannya terbuat dari air yang tidak berubah bau dan tidak berasa. Di pinggir sungai itu terdapat sekelompok gadis-gadis jelita yang memakai perhiasan yang sangat indah.

Ketika melihat kedatangan sang pemuda, gadis-gadis itu menyambutnya dengan ceria dan berkata, "Inilah dia suami al-aina al-mardhiyyah!"

Sang pemuda kemudian mengucapkan salam dan berkata, "Apakah salah seorang di antara kalian ini ada yang bernama al-aina al-mardhiyyah?"

Para gadis itu pun menjawab, "Tidak ada, tetapi kami ini hanyalah para dayang dan pelayannya semata, berjalanlah terus ke depan, maka engkau akan bertemu dengannya."

Perjalanan sang pemuda terus berlanjut. Ia kemudian menemui banyak taman-taman indah dengan berbagai sungai ajaib, dari yang aliran airnya merupakan air susu, khamr, hingga madu yang jernih.  

Di tiap taman pun selalu ada para gadis-gadis jelita yang semakin cantik dengan perhiasan yang semakin indah. Namun, tak satu pun dari mereka yang bernama al-aina al-mardhiyyah.

Hingga akhirnya, sampailah ia pada sebuah istana yang terbuat dari mutiara putih. Di depannya ada seorang gadis yang kemudian bertutur pada seseorang, "Wahai al-aina al-mardhiyyah, ini suamimu telah datang."

Sang pemuda pun mengarahkan pandangannya pada gadis yang bernama al-aina al-mardhiyyah tersebut. Bidadari tersebut sedang duduk di atas ranjang emas, dengan mengenakan mahkota yang terbuat dari permata dan mutiara.

Kecantikan sang bidadari membuat sang pemuda takjub, tak bisa berkata-kata lagi. Sang bidadari pun berkata, "Selamat datang, wahai Waliyur-rahman, telah dekat waktu kehadiranmu kepada kami."

Sang pemuda pun berjalan mendekati bidadari untuk memeluknya, tapi ditolak. Dengan lembut sang bidadari pun berkata, "Jangan tergesa-gesa, belum tiba waktunya bagimu untuk dapat memelukku. Engkau masih memiliki ruh di dalam jasad, maka berpuasalah esok hari, kemudian engkau akan berbuka bersama kami malam harinya."

Tiba-tiba sang pemuda pun terbangun dari mimpinya. Saat sedang menceritakan kisahnya tersebut, tiba-tiba datang gerombolan musuh menyerang pasukannya. Sang pemuda segera bangkit untuk menghadapi serangan tersebut dan berhasil mengalahkan sembilan orang dari pasukan musuh. Hingga saat menghadapi musuh kesepuluh, sang pemuda itu kalah. Ia mati syahid.

Tubuhnya yang berlumuran darah itu pun telah ditinggalkan oleh ruhnya. Wajahnya menyunggingkan senyuman yang indah. Tampaknya inilah waktu saatnya bertemu bidadari surga tersebut.

Sungguh, janji surga Allah bagi hambanya yang benar-benar menyerahkan diri benar-benar terjadi. Dalam surah an-Nisaa ayat 69, dijelaskan bahwa "Mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh, dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar