Minggu, 14 Desember 2014

“Diamlah Wahai Uhud, yang Berada di Atasmu adalah Seorang Nabi, Seorang Shiddiq, dan Dua Orang Syahid”

Exif_JPEG_PICTURE
 
DALAM suasana pengepungan dan kekacauan, seseorang masuk hendak membunuh khalifah Ustman bin Affan. Orang ini datang dan menarik jenggot Ustman. Ustman dengan tenang berkata, “Jangan sentuh jenggotku karena sesungguhnya ayahmu dulu menghormati jenggot ini.”
Kemudian pemberontak itu melepaskannya karena dia ingat bahwa bukan hanya ayahnya yang menghormati, tapi juga Rasulullah SAW dan setiap orang menghormati Ustman. Utsman pun berkata mengingatkan: “Wahai fulan, di antara aku dan dirimu ada Kitabullah!”
Diapun pergi meninggalkan Utsman, hingga datang orang lain dari bani Sadus. Dan ketika Ustman RA melihat nya datang, dia segera mengencangkan tali pengikat celananya, karena dia tidak ingin auratnya terlihat di saat-saat terakhirnya.
Dengan penuh keberingasan, dia cekik leher khalifah yang telah rapuh hingga sesak dada beliau dan terengah-engah nafas beliau, lalu dia tebaskan pedang ke arah Utsman bin ‘Affan. Amirul Mukminin menlindungi diri dari pedang dengan tangannya yang mulia, hingga terputus bercucuran darah. Saat itu Utsman berkata: “Demi Allah, tangan (yang kaupotong ini) adalah tangan pertama yang mencatat surat-surat mufashshal.”
Namun ucapan Utsman yang sesungguhnya nasihat –bagi orang yang memiliki hati– tidak lagi dihiraukan. Darah mengalir pada mushaf tepat mengenai firman Allah: “Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (Al-Baqarah: 137)
Kemudian istrinya, Na’ilah berlari untuk melindungi Utsman. Bukan hanya itu, jari jemari Na’ilah bintu Furafishah terpotong saat melindungi suaminya dari tebasan pedang kaum bughat. Subhanallah, cermin kesetiaan istri shalihah menghiasi tragedi berdarah di negeri Rasulullah.
Kemudian mereka menghujam dalam perut Ustman RA dengan pedang! Lalu salah satu pemberontak menerjang dada Ustman RA dan menusuknya 6 kali! Dengan demikian wafatlah Ustman RA pada usia 83 tahun.
Terwujudlah sabda Rasulullah puluhan tahun silam. Ketika itu, Rasulullah bersama dengan Abu Bakr, Umar, dan Utsman di atas Uhud, tiba-tiba Uhud bergoncang. Rasul pun bersabda: “Diamlah wahai Uhud, yang berada di atasmu adalah seorang nabi, seorang shiddiq, dan dua orang syahid.”
Allahu Akbar! Berbukalah Utsman bin Affan bersama Rasulullah sebagaimana mimpinya di malam itu. Ta’bir mimpi pun tersingkap sudah. Wafatlah khalifah Ar-Rasyid, di hari Jum’at, dalam usia 83 tahun. Pergilah manusia termulia saat itu menemui ridha Allah dan ampunan-Nya. Menuju jannah-Nya.
Seusai pembunuhan, berteriaklah laki-laki hitam pembunuh “Utsman, mengangkat dan membentangkan dua tangannya seraya berkata ‘Akulah yang membunuh Na’tsal!’.”
Beberapa lama setelah Utsman dibunuh, para pemberontak tidak memperbolehkan seorang pun untuk menguburkan jenazahnya. Pada akhirnya, istri Rasulullah, Umayya Habiba menaiki tangga masjid Rasulullah dan berkata, “Wahai pemberontak! Jika kalian tidak mengizinkan kami untuk mengubur Ustman RA, maka AKU ISTRI RASULULLAH SAW, AKU KEHENDAK RASULULLAH SAW, AKU KEKASIH RASULULLAH SAW, AKU IBU ORANG-ORANG BERIMAN, akan turun ke jalan Madinah tanpa menutupi rambutku dan AKU SENDIRI yang akan menguburkan Ustman!”

Dia tahu bahwa tidak ada satu pemberontak pun yang berani terhadap istri Rasulullah SAW Ka’ab ibn Malik RA meriwayatkan: “Demi Allah, jika Umayya ibn Habiba RA turun ke jalanan Madinah tanpa menutupi rambutnya, maka Allah akan MENURUNKAN HUJAN BATU DARI LANGIT!”

Dan ketika para pemberontak mendengar ancaman dari istri Rasulullah SAW, mereka membolehkan jenazah Ustman dikuburkan oleh empat orang: Hasan RA, Hussain RA, Ali RA, dan Muhammad ibn Talha RA Dan ketika mereka membawa jenazah Ustman untuk dikuburkan, para pemberontak mulai melempari batu ke jenazah Ustman RA.
Amrita bin Arta meriwayatkan, “Ketika aku dan Aisyah RA pulang dari berhaji, kami melihat Al-Qur’an dimana darah Ustman terjatuh ke atasnya pada ayat ‘Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (Al-Baqarah: 137).’
Akibat dari kematian Ustman begitu besar, sampai-sampai Hasan (cucu Rasulullah) meriwayatkan: “Aku melihat kakekku (Rasulullah) di dalam mimpi, dan dia berdiri di hadapan Arsy Allah SWT Dan inilah pertama kalinya aku melihatnya dalam mimpi dimana dia terlihat khawatir. Kemudian Abu Bakar RA datang dari belakangnya dan dia menempatkan tangannya di bahu Rasulullah SAW Kemudian Umar RA datang dari belakangnya dan dia menempatkan tangannya di bahu Abu Bakar RA Tidak lama setelahnya, Ustman RA datang dan wajahnya yang berlumuran darah. Tangannya menggenggam kepalanya dan dia berkata ‘Wahai Rasulullah, tanyakan kepada mereka karena dosa apakah mereka menjagalku seperti seekor sapi?’ Ketika Ustman RA berkata seperti ini, Arsy Allah mulai bergetar! Kemudian dua sungai darah mengalir dari Arsy Allah SWT”
Pada hari kiamat, ada banyak orang yang gugur sebagai syuhada. Untuk para syuhada itu, tanah tempatnya meninggal dunia akan bersaksi, namun untuk Ustman ibn Affan, Al-Qur’an yang akan menjadi saksinya, karena dia meninggal dunia tepat di hadapan sebuah Al-Qur’an!
Asyhadu an-La ilaha illallah, wa anna Muhammadan Rasulullah! Sabda Rasulullah bahwa Utsman akan meraih jannah dengan cobaan yang menimpanya benar-benar terjadi. Abu Musa Al-Asy’ari mengatakan bahwa: “Rasulullah memerintahkan Abu Musa untuk memberi kabar gembira kepada Utsman dengan jannah, dengan ujian yang akan menimpanya.”[lampu islam]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar