Kamis, 13 Maret 2025

LOGIKA UAS Kemana Kita Berpihak….?

 LOGIKA UAS

Kemana Kita Berpihak….? 

Ustadz ABDUL SOMAD (UAS), 

bertanya kepada jama'ahnya,

UAS 😗 :

"Andai kita hidup pd zaman Fira'un,

kira-kira kita jadi pengikut siapa, 

Fir'aun atau Nabi Musa?"

Jama'ah: "Musaaaaa."

 (Jawab jama'ah kompak).

UAS 😗 _"Yakiiin?"_

Jama'ah 😗 _"Yakiiiiiin....."_

UAS 😗 

Tapi yang membangun kota Mesir, Fir'aun.

Yang bangun infrastruktur juga dia.

Yang bangun piramida, Fir'aun. 

Yang paling kaya, Fir'aun.

Yang punya bala tentara banyak 

dan kuat, Fir'aun.

Yang punya banyak pengikut, Fir'aun.

Yang bisa memberi perlindungan 

dan jaminan,

Fir'aun.

Yang Berkuasa, Fir'aun.

Yang bisa menyediakan 

makanan dan minuman, 

Fir'aun.

Yang bisa adakan hiburan, Fir'aun. 

Yang bisa buat pusat perbelanjaan, Fir'aun.

Bahkan jika teknologi nya sudah ada,

mungkin *Kartu Mesir Sehat* 

dan *Kartu Mesir Pintar* juga dibuatnya."

Sementara Nabi Musa......

siapa dia?

Hanya seorang penggembala kambing. 

Bicara saja tidak fasih alias cadel 

(akibat pernah memakan bara api diwaktu bayi). 

Hanya memiliki sebatang tongkat butut.

Masih yakin mau ikut Nabi Musa........?

Tanya *UAS* sekali lagi.

Jamaah terdiam... Saling toleh satu sama lain.

UAS 😗 

"Kerjaan Nabi Musa hanya 

sebagai penjaga kambing, 

tiba-tiba mau mengajak kita menyeberangi lautan,

tanpa memakai sampan, tanpa perahu, tanpa kapal.

Apakah yakin kita mau ikut Nabi Musa?"

Tak satupun jama'ah berani menjawab.

Semua tertunduk, diam seribu bahasa.

UAS 😗 

Betapa sesungguhnya manusia 

zaman Firaun dan zaman sekarang, 

tidak ada bedanya. 

Di Zaman sekarang ini, mayoritas 

tergila gila* pada harta, wanita, pangkat, jabatan, pujian, rayuan. Cinta materi. Al Wahn

(cinta keduniawian)

Sungguh, Fir'aun itu akan tetap ada 

hingga akhir zaman. 

Hanya saja berubah wajah dan bentuknya. 

Juga namanya.

Namun secara hakikat dia akan terus ada. 

Sebab sejarah akan berulang, 

dan kita harus tetap yakin seyakinnya biidznillah

Fir'aun dikalahkan oleh Musa,

karena Kuasa ALLAH AZZA WA JALLA.

Siapapun yang akan jadi pemimpin

itu sudah menjadi takdir. Sudah tertulis 

di Lauhul Mahfudz, tetapi ALLAH SWT akan mencatat dimana *KITA BERPIHAK*

Belajarlah dari CICAK dan Burung Pipit.

Dahulu saat Nabi Ibrahim Alaihi Salam dibakar oleh Raja Namrud, 

datanglah burung pipit yang 

bolak balik mengambil air 

dan meneteskan air itu di atas api 

yang membakar Nabi Ibrahim.

Cicak yang melihatnya tertawa. "Hai pipit, bodoh amat yang kau lakukan itu. 

Paruhmu yang kecil hanya bisa menghasilkan

beberapa tetes air saja, 

mana mungkin bisa memadamkan api itu..?

Burung pipit pun menjawab:

"Wahai cicak, memang tak mungkinlah 

aku bisa memadamkan api yang besar itu, 

tapi aku tak mau jika ALLAH SWT

melihat Aku diam saja

saat sesuatu yang ALLAH cintai dizholimi 

Allah tak akan melihat 

apakah aku berhasil memadamkan 

api itu atau tidak.

Tetapi Allah akan melihat 

di mana aku berpihak.

Cicak terus tertawa, dan sambil

menjulurkan lidahnya ia berusaha 

meniup api yang membakar 

Nabi Ibrahim Alaihi Salam 

agar cepat membesar.

Memang tiupan cicak tak 

ada artinya tak menambah 

besar api yang membakar 

Nabi Ibrahim, 

tetapi Allah melihat dimana Cicak berpihak.

Hikayat ini terjadi sekarang. 

dan akan terus berulang. 

Saat Al-Qur'an dinistakan, 

suara Azan dipermasalahkan,

bendera tauhid dibakar dan 

pembela Agama dikriminalisasi.

Aku bertanya padamu sahabat: 

Dimanakah kau berpihak......?????

Memang, pilihanmu tak akan mengubah sedikitpun takdir Allah. 

Tapi Allah akan mencatat dimana kau berpihak.

Berada di barisan mana dirimu, 

Siapa dan apa yang kamu dukung.

Ingat-ingat... pilihanmu akan dimintai pertanggung jawaban kelak di akhirat.

Untuk kita Renungkan 

Semoga Kita semua selalu dalam Lindungan ALLAH SWT Aamiin...yaa Mujibassailiin...🤲

......

*Termasuk orang yg mau share atau tidak setiap postingan yg berisi syiar Islam*

Minggu, 02 Februari 2025

*10 Nasehat Sebelum Ramadhan*



Prof. Dr. KH. Ahmad Satori Ismail (Ketua PP IKADI ):

Sekarang sudah hampir memasuki bulan Ramadhan. Maka biasakanlah beberapa perkara ini untuk menghadapi bulan Ampunan;

1. Sudahilah/perbaikilah segala macam bentuk permusuhan dengan sesama manusia.
Karena permusuhan itu penghalang diampuninya dosa.
Nabi salallahu Alaihissalam bersabda :

فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لاَ يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا إِلاَّ رَجُلاً كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ، فَيُقَالُ: أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا، أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا، أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا.”
Maka semua hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun akan diampuni dosa-dosanya, kecuali seseorang yang antara dia dan saudaranya terjadi permusuhan.
Lalu dikatakan, ‘Tundalah pengampunan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai, tundalah pengampunan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai, tundalah pengampunan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai.
”(HR. Muslim)

2. Tinjaulah Makanan kalian, pastikan kehalalannya. Sampai antum masuk pada bulan Ramadhan dengan makanan yang halal.
Karena makanan yang halal salah satu sebab diampuni dosa, dimudahkan untuk melakukan ketaatan kepada Allah.
Tidak layak bagi kaum muslimin yang puasa, tapi berbuka dengan makanan haram.

3. Latihlah diri antum dengan puasa dari sekarang (masih tersisa 17 hari lagi) meskipun hanya dengan puasa senin kamis.
4. Biasakan hati kalian dari sekarang untuk bisa melakukan qiyamul lail 11 rakaat meskipun dengan baca surat-surat pendek.
5. Biasakan mulai dari sekarang untuk rajin sedekah meskipun dengan 1 junaih (700 rupiah) , agar malaikat selalu mendoakanmu :
اَللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا
‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak.’ (Muttafaq Alaihi)

6. Jagalah lisan dari segala bentuk celaan, sehingga terbiasa tatkala bulan Ramadhan dengan lisan yang bersih dari umpatan.
7. Bacalah Al-Qur'an, jangan meningglakan Al-Qur'an.
وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا
Berkatalah Rasul: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan".
(QS. Al-Furqon : 30 ).
Bacalah 1 juz dari sekarang, jangan nunggu Ramadhan saja rajinnya.

8. Sambunglah silaturahmi mulai dari sekarang meskipun dengan hanya menelpon saudaramu.
9. Jagalah pandangan kalian terhadap wanita atau dari tontonan haram, jangan pandang manusia dengan pandangan syahwat, kedengkian atau menganggapnya remeh/mengolok-oloknya.
10. 3 Amalan yang tidak ada selain di bulan Ramadhan. Puasa Ramadhan, Qiyam Ramadhan dan Lailatul Qodr. Jangan sibuk dengan sinetron, semua film yang diputar pada bulan Ramadhan akan diulang, tapi perkara 3 tadi tidak bisa diulang kecuali antum masih hidup pada Ramadhan depannya.
Semoga kita menjadi golongan yang beruntung untuk dapat meraup ampunan sebanyak-banyaknya dari Allah Ta'ala.
بارك الله فيكم. ...

Kamis, 23 Januari 2025

Persiapan Diri Menyambut Bulan Ramadhan



Persia pan diri menyambut bulan Ramadhan adalah hal yang dianjurkan bagi seluruh umat muslim di dunia. Allah SWT pun telah mengkhususkan bulan Ramadhan sebagai bulan dengan keutamaan yang istimewa sehingga menjadi salah satu sarana untuk mencapai tingkat kesempurnaan di hadapan Allah SWT. 

Persiapan diri yang baik secara fisik maupun mental dalam menyambut puasa Ramadhan sangatlah penting. Secara mental, kita harus mampu dalam mempersiapkan diri dengan hati yang bersih (tulus dan ikhlas) dalam mendekatkan diri kepada Allah Swt. Sementara itu, fisik dinilai penting untuk menjaga metabolisme tubuh dalam mempersiapkan puasa Ramadhan.

Kamis, 12 Desember 2024

Berpuasa Ramadhan Tapi Hanya Dapat Lapar dan Dahaga

 

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA—Pada Ramadhan umat Islam menjalankan ibadah puasa. Mereka tidak boleh melakukan hal-hal yang dapat membatalkan puasa seperti makan dan minum, berhubungan badan di siang hari.

Namun bagaimana dengan ungkapan para ulama atau ustadz bahwa jangan sampai berpuasa hanya mendapatkan lapar dan haus?

Ungkapan ini pada dasarnya, ada dasarnya. Hadits Rasulullah SAW menyampaikan mengenai hal ini, beliau bersabda: 

Artinya, “Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan sesuatu dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR An-Nasa’i)