REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Manusia terus mencari kebahagiaan. Namun, banyak di antara mereka yang tersesat dari jalan menuju kebahagiaan yang sejati. Mereka berlari mengejar fatamorgana yang tidak memiliki hakikat.
Mereka mengira bahwa kebahagiaan terletak pada harta dan kedudukan, pada pemuasan hawa nafsu dan kemewahan, atau pada popularitas serta kenikmatan dunia yang fana. Padahal semua itu hanyalah kebahagiaan semu yang menipu hati dan melalaikan akal.
Banyak orang yang memiliki harta melimpah dan kekayaan berlimpah, tetapi tidak menunaikan hak-hak yang ada pada hartanya.
Mereka justru menjalani kehidupan yang penuh kesengsaraan dan kegelisahan, bahkan sebelum datangnya kehidupan akhirat.
Mengapa demikian? Karena seluruh hidup mereka dihabiskan untuk menjaga, mengembangkan, dan mempertahankan kekayaannya. Mereka terus dihantui rasa cemas dan takut kehilangan harta yang dimiliki.
Betapa banyak orang yang memiliki kekayaan hingga miliaran, tetapi hidupnya dipenuhi kecemasan. Mengapa mereka begitu takut?
Mengapa hati mereka tidak pernah tenang? Karena mereka selalu khawatir hartanya lenyap, dirampas oleh musibah, krisis ekonomi, peperangan, atau berbagai peristiwa yang dapat menghilangkan seluruh kekayaannya.
Berapa banyak orang kaya yang menjadi korban penculikan atau pembunuhan karena kekayaannya. Bahkan, tidak sedikit orang yang justru kehilangan kebebasan akibat hartanya. Mereka tidak dapat berjalan dengan leluasa, tidak bisa bepergian sesuka hati, bahkan tidak dapat tidur dengan tenang.
Semua itu terjadi karena kekayaan yang mereka miliki. Lebih dari itu, tidak sedikit orang yang suatu ketika memiliki harta berlimpah, namun kemudian seluruh kekayaannya lenyap karena berbagai sebab, sehingga sisa hidupnya dijalani dalam penderitaan dan kesedihan.
