Jumat, 11 Desember 2015

Rasulullah Juga Seorang Guru

Oleh: Imam Nur Suharno

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pada suatu hari, Rasulullah SAW keluar dari rumah. Tiba-tiba beliau melihat ada dua majelis yang berbeda.
Majelis yang pertama ialah majelis orang-orang ibadah yang sedang berdoa kepada Allah SWT dengan segala kecintaan kepada-Nya sedangkan majelis yang kedua ialah majelis pendidikan atau pengajaran yang terdiri atas para guru dan sejumlah muridnya.

Kamis, 03 Desember 2015

AYAH 'BISU'

Para ayah yang baik, kita pasti sepakat bahwa al-Qur’an adalah sumber utama bagi setiap muslim di setiap lini kehidupannya. Sayang ya yah, kalau pernyataan ini hanya tinggal pernyataan tanpa aplikasi. Buktinya..., siapa yang hari ini bicara tentang parenting dengan merujuk langsung ke al-Qur’an. A big question!
Nah ayah, mulai tulisan ini hingga beberapa tulisan ke depan, kita akan belajar bersama langsung dari al-Qur’an. Menggali sedalam-dalamnya. Untuk mendapatkan mata air terjernih. Panduan untuk setiap ayah.
Sebuah tulisan ilmiah akan menjadi inspirasi kajian kita dalam tema ini. Tulisan ilmiah tersebut karya Sarah binti Halil bin Dakhilallah al-Muthiri, untuk meraih gelar magister di Universitas Umm al-Quro, Mekah, Fakultas Pendidikan, Konsentrasi Pendidikan Islam dan Perbandingan.
Judul tulisan ilmiah tersebut adalah:
حِوَارُ اْلآباَءِ مَعَ اْلأبْناَءِ فيِ اْلقُرْآنِ اْلكَرِيْمِ وَتَطْبِيْقَاتُهُ التَّرْبَوِيَّةِ
“Dialog orangtua dengan anak dalam al-Qur’an al-Karim dan aplikasi pendidikannya”
Dari judulnya saja, sudah luar biasa. Dan memang luar biasa isinya. Menarik ya yah....
Sudah gak sabar nih untuk baca bersama....
Menurut tulisan ilmiah tersebut, terdapat 17 dialog (berdasarkan tema) antara orangtua dengan anak dalam al-Qur’an yang tersebar dalam 9 Surat.
Ke-17 dialog tersebut dengan rincian sebagai berikut:
• Dialog antara ayah dengan anaknya (14 kali)
• Dialog antara ibu dan anaknya (2 kali)
• Dialog antara kedua orangtua tanpa nama dengan anaknya (1 kali)
Lihatlah ayah, subhanallah...
Ternyata al-Qur’an ingin memberikan pelajaran. Bahwa untuk melahirkan generasi istimewa seperti yang diinginkan oleh Allah dan Rasul-Nya, harus dengan komposisi seperti di atas.
Jika kita bandingkan, ternyata dialog antara ayah dengan anaknya, lebih banyak daripada dialog antara ibu dengan anaknya. Jauh lebih banyak. Lebih sering. 14 banding 2!
Kalau hari ini banyak muncul ayah ‘bisu’ dalam rumah, inilah salah satu yang menyebabkan munculnya banyak masalah dalam pendidikan generasi. Sebagian ayah seringkali kehabisan tema pembicaraan dengan anak-anaknya. Sebagian lagi hanya mampu bicara dengan tarik urat alias ngamuk, eh maaf...marah. Ada lagi yang diaaamm saja, hampir tidak bisa dibedakan saat sedang sariawan atau memang tidak bisa bicara. Sementara sebagian lagi, irit energi; bicara seperlunya. Ada juga seorang ayah yang saat dia belum selesai bicara sang anak bisa menyela, “Cukup yah, saya bisa lanjutkan pembicaraan ayah.” Saking rutinitas yang hanya basa basi dan itu-itu saja.
Jika begitu keadaan para ayah, maka pantas hasil generasi ini jauh dari yang diharapkan oleh peradaban Islam yang akan datang. Para ayah selayaknya segera memaksakan diri untuk membuka mulutnya, menggerakkan lisannya, terus menyampaikan pesannya, kisahnya dan dialognya.
Ayah, kembali ke al-Qur’an..
Dialog lengkap, utuh dan panjang lebar di dalam al-Qur’an, hanya dialog ayah kepada anaknya. Bukan dialog ibu dengan anaknya. Yaitu dialog Luqman dengan anaknya. Sebuah nasehat yang lebih berharga bagi seorang anak dari semua fasilitas dan tabungan yang diberikan kepadanya.
Dengan kajian di atas, kita terhindar dari kesalahan pemahaman. Salah, jika ada yang memahami bahwa dialog ibu tidak penting. Jelas sangat penting sekali dialog seorang ibu dengan anaknya. Pemahaman yang benar adalah, al-Qur’an seakan ingin menyeru kepada semua ayah: ayah, kalian harus rajin berdialog dengan anak. Lebih sering dibanding ibu yang sehari-hari bersama buah hati kalian.
Dan...
Jangan jadi ayah bisu!

Rabu, 02 Desember 2015

Harta Pusaka Manusia

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Ahmad Agus Fitriawan

Berbicara tentang harta pusaka, asosiasi kita tentu saja langsung tertuju kepada setumpuk permata atau berlian dalam sebuah peti. Namun, bila ditinjau dalam kacamata agama, masalahnya menjadi lain.

Permata atau berlian dalam peti tidaklah memiliki arti apa pun dibandingkan dengan hati yang padat dengan rasa syukur, lidah yang dihias dengan untaian zikir, dan istri yang salihah, seperti dinyatakan dalam sebuah hadis, “Hati yang padat dengan rasa syukur dan lidah yang dihiasi dengan untaian kata zikir serta istri yang salihah menunjang kamu dalam berbagai urusan dunia dan agama (akhirat) kamu. Itulah harta pusaka yang paling baik bagi manusia.” (HR Al-Baihaqi).

Selasa, 01 Desember 2015

Janji Allah Itu Pasti

“Setan menjanjikan kamu dengan kekafiran dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedangkan Allah menjanjikan untukmu ampunan dan karunia-Nya. Dan Allah Mahaluas karunianya dan Maha Mengetahui. Allah mengaugrahkan al-hikmah kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Barang siapa yang dianugrahi hikmah itu, ia telah benar-benar dianugrahi kebajikan yang banyak. Dan tidak akan merenunginya kecuali ulul albab (orang-orang yang mampu mengambil pelajaran).”
(QS. Al-Baqarah [2] : 268-269)