Begitu pula dengan perjalanan pekan. Baru saja memasuki awal pekan, tahu-tahu kita sudah berada di penghujungnya. Demikian pula bulan demi bulan dan tahun demi tahun yang berlalu dengan kecepatan yang seolah menakutkan.
Tampilkan postingan dengan label Kajian Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian Islam. Tampilkan semua postingan
Senin, 03 Agustus 2026
Seberapa Sering Kita Merasakan Waktu Berjalan Begitu Cepat? Ini Penjelasan Ulama
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Betapa cepatnya hari-hari berlalu.Pernahkah kita benar-benar menyadarinya? Sesungguhnya cepatnya pergantian hari dan malam adalah sesuatu yang sangat menggetarkan hati.Seseorang baru saja meletakkan kepalanya di atas bantal untuk tidur, tiba-tiba cahaya fajar sudah menyingsing. Baru saja terbangun di pagi hari, tanpa terasa waktu tidur kembali telah tiba.
Rabu, 08 Juli 2026
KAYA MUNURUT ROSULLULOH
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pada suatu hari, Nabi Muhammad SAW berpesan kepada sahabat-sahabatnya bahwa tidak ada makanan yang lebih baik daripada apa-apa yang diperoleh dari keringat sendiri. Beliau juga mengingatkan tentang salah satu contoh baik: Nabi Daud AS tidak pernah makan kecuali dari hasil tangannya sendiri (HR Bukhari).
Abdurrahman bin Auf, setibanya di Madinah dalam perjalanan hijrah dari Makkah, ditawari oleh Sa'ad bin Rabi' untuk mengambil separuh dari kekayaannya. Namun, ia tidak segera menerima tawaran itu. Ia hanya meminta agar ditunjuki jalan ke pasar untuk berdagang.
Seorang Mukmin adalah pribadi yang selalu mandiri, bekerja keras, tidak segera menyerah pada keadaan, dan tidak mudah tergantung kepada orang lain. Baginya, sempitnya lapangan kerja bukan penghalang, melainkan pemicu semangat untuk membuka lahan-lahan baru yang lebih menjanjikan.
Dalam jiwanya terpatri firman Allah SWT, ''Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.'' (QS 13: 11).
Untuk membangun kemandirian ini, Rasulullah SAW selalu menegaskan kepada sahabat-sahabatnya bahwa tangan yang di atas (memberi) lebih baik daripada tangan yang di bawah (mengemis atau meminta). (HR Bukhari-Muslim).
Pernyataan ini tidak saja Rasulullah sampaikan di atas mimbar, melainkan juga dalam pertemuan secara pribadi dengan sahabat-sahabatnya. Dalam sebuah riwayat, seperti diceritakan Abu Hurairah, Rasulullah SAW suatu hari menyampaikan kepada sahabat-sahabatnya hakikat kemiskinan dan kekayaan.
Kata beliau, yang disebut miskin bukan mereka yang tidak punya sesuap atau dua suap makanan, tidak punya sebiji atau dua biji kurma, melainkan mereka yang meminta-minta (HR Bukhari-Muslim).
Adapun yang disebut kaya, masih kata Rasulullah SAW, bukan mereka yang mempunyai harta yang melimpah, melainkan mereka yang puas atas pemberian Allah sekalipun sedikit (HR Bukhari-Muslim).
Dalam hadis lain, Rasulullah SAW bersabda, ''Berbahagialah mereka yang masuk Islam. Mereka dikaruniai kemampuan untuk tidak mengemis, dan selalu puas dengan apa yang diberikan Allah kepadanya.'' (HR Muslim). Auf bin Malik menceritakan bahwa ia --dengan ditemani beberapa orang-- pernah menemui Rasulullah SAW.
Ketika itu Rasulullah tiba-tiba mengajak mereka berbaiat. Mereka kaget karena merasa pernah melakukan baiat. Namun, karena Rasulullah mengulang ajakannya itu hingga tiga kali, akhirnya mereka mengajukan tangannya untuk baiat.
Yang menarik, setelah baiat untuk bertauhid sekaligus meninggalkan syirik, serta baiat melaksanakan shalat lima waktu, Rasulullah berbisik dengan suara pelan tapi tegas, mengucapkan baiat untuk tidak meminta-minta kepada orang lain. (HR Muslim).
Sikap (baiat) Rasulullah yang demikian itu tidak hanya membangun komitmen agar kita selalu mandiri dalam menghadapi kehidupan sehari-hari. Tapi, juga memberi penekanan agar kita sebagai umatnya bersinergi secara maksimal untuk membangun masyarakat yang ber-ta'wun fil birri wat-taqwa, saling tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan; bukan saling menindas dan menzalimi
Selasa, 16 Juni 2026
Apa Kebahagiaan yang Sebenarnya di Dunia? Apakah Cuma Kekayaan dan Keturunan?
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Manusia terus mencari kebahagiaan. Namun, banyak di antara mereka yang tersesat dari jalan menuju kebahagiaan yang sejati. Mereka berlari mengejar fatamorgana yang tidak memiliki hakikat.
Mereka mengira bahwa kebahagiaan terletak pada harta dan kedudukan, pada pemuasan hawa nafsu dan kemewahan, atau pada popularitas serta kenikmatan dunia yang fana. Padahal semua itu hanyalah kebahagiaan semu yang menipu hati dan melalaikan akal.
Banyak orang yang memiliki harta melimpah dan kekayaan berlimpah, tetapi tidak menunaikan hak-hak yang ada pada hartanya.
Mereka justru menjalani kehidupan yang penuh kesengsaraan dan kegelisahan, bahkan sebelum datangnya kehidupan akhirat.
Mengapa demikian? Karena seluruh hidup mereka dihabiskan untuk menjaga, mengembangkan, dan mempertahankan kekayaannya. Mereka terus dihantui rasa cemas dan takut kehilangan harta yang dimiliki.
Betapa banyak orang yang memiliki kekayaan hingga miliaran, tetapi hidupnya dipenuhi kecemasan. Mengapa mereka begitu takut?
Mengapa hati mereka tidak pernah tenang? Karena mereka selalu khawatir hartanya lenyap, dirampas oleh musibah, krisis ekonomi, peperangan, atau berbagai peristiwa yang dapat menghilangkan seluruh kekayaannya.
Berapa banyak orang kaya yang menjadi korban penculikan atau pembunuhan karena kekayaannya. Bahkan, tidak sedikit orang yang justru kehilangan kebebasan akibat hartanya. Mereka tidak dapat berjalan dengan leluasa, tidak bisa bepergian sesuka hati, bahkan tidak dapat tidur dengan tenang.
Semua itu terjadi karena kekayaan yang mereka miliki. Lebih dari itu, tidak sedikit orang yang suatu ketika memiliki harta berlimpah, namun kemudian seluruh kekayaannya lenyap karena berbagai sebab, sehingga sisa hidupnya dijalani dalam penderitaan dan kesedihan.
Minggu, 01 Februari 2026
Bulan Ramadhan: Sejarah, Makna, dan Amalan-Amalan yang Perlu Diketahui
Sejarah Bulan Ramadhan
Sejak kecil, mungkin banyak yang bertanya, mengapa umat Islam berpuasa di bulan Ramadhan? Sejarahnya berawal dari zaman Nabi Muhammad SAW. Sebelum kewajiban puasa Ramadhan ditetapkan, umat Islam menjalankan puasa pada Hari Asyura, yaitu tanggal 10 Muharram.
Ini mengikuti tradisi kaum Yahudi yang berpuasa sebagai bentuk syukur atas keselamatan Nabi Musa AS dari kejaran Firaun.
Minggu, 18 Januari 2026
Golongan yang Dijauhkan dari Telaga Rasulullah
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Telaga al-Kautsar adalah sebuah karunia besar yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad SAW. Di Telaga Rasulullah SAW itu, umat Islam kelak pada hari kiamat akan berjumpa dengan beliau. Mereka pun akan menikmati air yang penuh berkah itu.
Nabi SAW bersabda, "Telagaku seluas perjalanan selama satu bulan dan panjang tepi-tepinya sama dengannya. Air telaga itu lebih putih daripada susu, wanginya lebih harum daripada minyak misk, cangkirnya sejumlah bintang-bintang yang ada di langit. Maka barang siapa yang telah meminum air telaga tersebut, niscaya dia tidak akan merasakan haus selama-lamanya"
Bagaimanapun, tidak semua umat akan menerima berkah dan kehormatan untuk meminum air dari Telaga Nabi. Lantas, siapa saja yang justru dijauhkan dari kesempatan yang luar biasa besar itu?
Nabi SAW bersabda, sebagaimana diriwayatkan oleh ummul mukminin 'Aisyah RA.
وعن عائشة رضي الله عنها قالت: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول وهو بين ظهراني أصحابه: (إني على الحوض، أنتظر من يرد علي منكم، فوالله ليقتطعن دوني رجال، فلأقولن: أي رب! مني ومن أمتي، فيقول: إنك لا تدري ما عملوا بعدك
“Aku lebih dahulu dibanding kalian (sampai) di Telaga. Ditunjukkan kepadaku (tentang Telaga) beberapa orang di antara kalian. Ketika aku akan mengambilkan minuman untuk mereka dari telaga, mereka dijauhkan dariku. Aku pun bertanya kepada Tuhanku (mengapa mereka dijauhkan dari Telaga), 'Ini (mereka) adalah umatku.' Kemudian, Allah berfirman, ‘Engkau sebenarnya tidak mengetahui bidah yang mereka buat sesudahmu'" (HR Muslim).
Selasa, 16 Desember 2025
3 Hal yang Dibenci Allah
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Allah SWT menyuruh manusia agar mereka beriman dan bertakwa kepada-Nya. Umumnya, para ulama mendefinisikan takwa sebagai berikut. Menjaga diri dari perbuatan maksiat, meninggalkan dosa syirik, perbuatan keji, dan dosa-dosa besar. Dalam pengertian lain, takwa ialah melaksanakan segala perintah Allah serta menjauhi segala larangan-Nya.
Berkaitan dengan itu, ada sejumlah perkara yang disukai oleh Allah. Dan, ada pula hal-hal yang dibenci-Nya. Dari Abu Hurairah RA, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah meridhai kalian dalam tiga perkara dan benci kepada kalian dalam tiga perkara
Allah meridhai kalian jika kalian (pertama) beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. (Kedua) jika kalian berpegang teguh kepada agama-Nya dan tidak berpecah belah. (Ketiga) jika kalian saling menasihati kepada orang yang diserahkan kepadanya urusanmu.”
Kabar angin
Rabu, 12 November 2025
Takut Hanya kepada Allah
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Setiap orang pasti pernah merasakan takut, mulai dari takut digigit ular, takut kehilangan jabatan, hingga takut kepada Tuhan. Dalam psikologi agama, sebagian manusia mencari dan membutuhkan Tuhan, antara lain, karena adanya rasa takut dalam diri terhadap kekuatan gaib.
Manusia takut kepada kekuatan dahsyat yang ada di alam raya ini, seperti gunung meletus, angin puting beliung, banjir bandang, tsunami, dan sebagainya sehingga membuatnya mencari pelindung, pemberi rasa aman dan keselamatan hidupnya.
Secara psikologis, takut adalah kondisi psikis (kejiwaan) yang diliputi rasa khawatir, kegalauan, ketakutan, waswas, atau kurang nyaman terhadap sesuatu yang tidak disukainya itu jika terjadi pada dirinya. Takut bisa saja menjadi energi positif jika dimaknai secara positif, demikian pula sebaliknya.
Kata takut dalam Alquran, antara lain, dinyatakan dengan khauf dan khasyyah. Kata khauf lebih umum daripada kata khasyyah.
Rabu, 01 Oktober 2025
Nasihat Nabi agar Umatnya Tenang Jalani Hidup di Dunia
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pesona dunia kerap membuat seseorang lupa akan hakikat hidup di dunia. Sehingga, menjadikannya lalai dalam melakukan tugas dan kewajiban sebagai seorang hamba, yaitu beribadah kepada Allah SWT. Padahal, kehidupan dunia tak lebih hanya permainan dan senda gurau belaka (QS Muhammad [47]: 36).
Tak heran bila kemudian Rasulullah SAW selalu mengingatkan umatnya untuk menyikapi hidup di dunia ini sebagai ladang berbekal, dan sebaik-baiknya bekal adalah takwa kepada Allah SWT. (QS Al-Baqarah [2]: 197).
Oleh karena itu, Ibnu Umar RA mengambil wasiat dari Rasulullah untuk menggunakan setiap kesempatan guna berbekal. ''Jika kamu berada di masa sore, jangan menunggu waktu pagi. Dan jika kamu berada di waktu pagi, jangan menunggu masa sore. Manfaatkanlah masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, dan masa hidupmu sebelum datang kematianmu" (HR Bukhari).
Menjadikan hidup di dunia hanya sebagai ladang berbekal akan menimbulkan perasaan bahwa hakikat diri adalah asing di dunia dan tidak mungkin menetap selamanya. Diri tidak lagi terpikat pada segala sesuatu yang menggoda di tempat persinggahan sementaranya itu. Hatinya hanya terpaut pada tujuan yang akan menjadi tempat kembalinya kelak. Bahkan, dia akan menganggap dirinya seperti 'musafir' yang ingin terus melanjutkan perjalanan hingga batas akhir tujuan, yaitu kehidupan abadi di akhirat.
Memahami kehidupan di dunia ini layaknya musafir, telah diajarkan oleh Rasulullah melalui sabdanya, ''Aku tidak memiliki kecenderungan (kecintaan) terhadap dunia. Keberadaanku di dalam dunia seperti seorang musafir yang berteduh di bawah pohon, kemudian pergi dan meninggalkan pohon tersebut" (HR Tirmidzi).
Oleh karena itu, wajib bagi seorang Mukmin untuk bersegera melakukan kebaikan sebelum dia tidak mampu lagi untuk melakukannya, baik karena menderita sakit atau karena kematian yang menjemput.
Dan di saat manusia terhalang untuk melakukan amal kebaikan, maka yang tersisa hanyalah penyesalan dan kesedihan. Dia hanya bisa berandai untuk kembali sehat atau hidup lagi, padahal harapan itu sia-sia belaka.
Firman-Nya: "Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka (orang-orang kafir), dia berkata, 'Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia). Agar aku berbuat amal saleh terhadap apa yang telah aku tinggalkan'. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding hingga hari mereka dibangkitkan" (QS Al-Mukminun [23]: 99-100).
Kamis, 18 September 2025
Menyayangi Orang Miskin
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- "Barang siapa melapangkan kesempitan seorang mukmin di dunia, maka Allah akan melapangkan baginya kesusahan di hari kiamat, dan barang siapa memudahkan kesukaran seseorang, maka Allah akan memudahkan baginya di dunia dan akhirat.'' (HR Muslim)Syariat Islam bertabur dengan anjuran untuk memperbanyak sedekah dan pebuatan baik terhadap sesama. Islam mengajak para pemeluknya untuk selalu menolong orang-orang yang kesusahan dan menyayangi fakir miskin.
Hadis Nabi menyatakan, ''Bentengilah hartamu dengan zakat, obati orang-orang sakit (dari kalangan kerabatmu) dengan bersedekah, dan persiapkan doa untuk menghadapi datangnya bencana.'' (HR Aththabrani).
Dalam hadis lain dinyatakan, "Naungan bagi seorang mukmin pada hari kiamat adalah sedekahnya." (HR Ahmad)
Bersedekah, berkurban serta ibadah sosial lainnya merupakan wujud syukur kepada Allah SWT atas segala nikmat yang telah diberikan-Nya.
Allah SWT menyatakan dalam surah al-Kautsar: 1-3, "Sesungguhnya Kami telah memberimu nikmat yang serba banyak. Maka shalatlah karena Tuhanmu, dan berkurbanlah. Sesungguhnya mereka yang membencimu termasuk orang-orang yang terputus amalannya."
Setiap hari hendaknya jadi kesempatan bagi setiap Muslim untuk memperbarui dan meningkatkan rasa belas kasih terhadap orang-orang tak berpunya. Setiap sedekah yang dilandasi hati ikhlas kepada mereka akan sangat berarti. Mereka menerimanya dengan suka cita dan penuh harap.
Menarik sekali uraian Dr H Muslim Nasution dalam bukunya, Menuju Ketenangan Batin (Gema Insani Press, 2002). Ternyata, menyayangi dan membantu orang miskin, orang yang ditimpa kesusahan, dan anak yatim merupakan salah satu sarana untuk menenangkan batin. Dari segi materi, terkadang orang yang memberikan bantuan kepada orang lain terlihat rugi, berkurang milik atau uangnya. Namun, dengan pemberian yang ikhlas itu, akan tenanglah batinnya.
Dengan itu, tubuh dan jiwanya menjadi semakin sehat. Cobalah palingkan wajah sejenak ke sekeliling rumah tinggal, perusahaan, maupun kantor kita. Orang-orang miskin ada di mana-mana. Mereka mendambakan kepedulian, kasih sayang, dan uluran tangan kita. Mudah-mudahan Allah menggerakkan hati kita untuk menyayangi dan menolong mereka yang hidupnya tidak beruntung.
Selasa, 12 Agustus 2025
Jauhi Kebiasaan Menunda-nunda
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bersegera dan tidak menunda adalah cerminan pribadi seorang Muslim. Tepatnya, cerminan dari orang yang sadar akan hakikat waktu. Waktu cepat sekali berlalu. Sekali lewat, ia tidak akan pernah kembali dan tidak akan pernah tergantikan. Karena itu, waktu menjadi harta termahal yang dimiliki manusia. Menggunakannya dengan cara yang tepat adalah sebuah kewajiban. Ada tiga alasan mengapa Allah dan Rasul-Nya mewajibkan manusia untuk tidak menunda sebuah pekerjaan. Pertama, tidak ada jaminan kita bisa hidup hingga esok hari. "Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dikerjakannya besok. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati" (QS Luqman: 34).
Siapakah yang dapat menjamin kita bisa hidup hingga besok, lusa, bulan depan, atau tahun depan; padahal kematian begitu dekat dengan tiap manusia. Seorang penyair berkata, "Selesaikan pekerjaanmu hari ini, jangan menunggu besok. Siapa yang akan menanggung perkaramu di esok hari?"
Kedua, dalam setiap waktu ada hak dan kewajiban yang harus ditunaikan. Tidak ada waktu yang kosong dari aktivitas. Pengabaian terhadap hak dan kewajiban tersebut akan membawa kemudharatan berlipat-lipat bagi yang melakukannya.
Seorang ahli hikmah berkata bahwa kewajiban pada tiap-tiap waktu memungkinkan untuk diganti, namun hak-hak dari tiap waktu tersebut tidak mungkin diganti. Ibnu 'Atha mengungkapkan, "Sesungguhnya pada setiap waktu yang datang, maka bagi Allah atas dirimu kewajiban yang baru. Bagaimana kamu akan mengerjakan kewajiban yang lain, padahal ada hak Allah di dalamnya yang belum kamu laksanakan!"
Ketiga, baik bersegera ataupun menunda yang terus dilakukan akan menjadikan jiwa terbiasa melakukannya. Tidak akan pernah menjadi penunda "kelas berat", kecuali diawali dengan menunda kecil-kecilan dalam intensitas yang tinggi. Kebiasaan menunda akan menjadi tabiat kedua yang akan sulit ditinggalkan.
Karena itu, Allah SWT melarang hamba-Nya melalaikan waktu sedikitpun, termasuk menunda pekerjaan. Rasulullah SAW menjelaskan, "Jika seorang hamba melakukan satu dosa, niscaya akan ditorehkan di hatinya satu noda hitam. Seandainya dia meninggalkan dosa itu, beristighfar dan bertaubat; niscaya noda itu akan dihapus. Tapi jika dia kembali berbuat dosa, niscaya noda-noda itu akan semakin bertambah hingga menghitamkan semua hatinya.
Itulah penutup yang difirmankan Allah, 'Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka lakukan itu telah menutup hati mereka' (QS al-Muthaffifin: 14).'"
Selasa, 03 Juni 2025
Keutamaan Puasa Arafah 9 Dzulhijjah Menurut Hadits
REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Bulan Dzulhijjah dikenal sebagai salah satu bulan mulia dalam kalender Islam, di mana amal-amal saleh mendapat ganjaran berlipat. Salah satu ibadah yang sangat dianjurkan bagi umat Islam yang tidak sedang menunaikan ibadah haji adalah puasa Arafah, yang dilaksanakan setiap 9 Dzulhijjah, sehari sebelum Idul Adha.
"Menghapus dosa dua tahun adalah keutamaan yang paling dikenal dan sering disebut terkait puasa Arafah," ucap Lutfi.
Menukil dari Kitab as-Siyam, Rasulullah SAW bersabda:
عَنْ أَبِى قَتَادَةَ الأَنْصَارِىِّ رَضِىَ الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ
Artinya: "Dari Abu Qatadah Al-Anshari radhiyallahu 'anhu,2 ia berkata: Rasulullah SAW ditanya tentang puasa hari Arafah, maka beliau menjawab: 'Puasa Arafah itu menghapus dosa-dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.'" (HR Muslim no 1162)
Rabu, 07 Mei 2025
Meneladani Umar bin Abdul Aziz yang Menolak Hak Gaji Khalifah
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Umar bin Abdul Aziz merupakan salah satu khalifah (khalifah ke-8) pada masa Dinasti Umayyah. Dia memegang pucuk pimpinan kekhalifahan dari tahun 717 M hingga 720 M, atau dari tahun 99 H sampai 101 H. Meski hanya sekitar dua-tiga tahun menjabat, banyak keteladanan yang patut dipetik dari sosoknya.
Salah satunya ketika pengangkatan dirinya sebagai khalifah. Umar sendiri adalah putra dari Abdul Aziz bin Marwan, gubernur Mesir di masa Dinasti Umayyah dari 685 M sampai 705 M.
Dalam buku Mengenal Pola Kepemimpinan Umat dari Karakteristik Perihidup Khalifah Rasulullah (terjemahan Khulafaurrasul) karya Khalid Muhammad Khalid terbitan Diponegoro Bandung 1999, dikisahkan bagaimana penghasilan Umar sebelum dan sesudah diangkat menjadi khalifah.
Minggu, 02 Februari 2025
*10 Nasehat Sebelum Ramadhan*
Prof. Dr. KH. Ahmad Satori Ismail (Ketua PP IKADI ):
Sekarang sudah hampir memasuki bulan Ramadhan. Maka biasakanlah beberapa perkara ini untuk menghadapi bulan Ampunan;
1. Sudahilah/perbaikilah segala macam bentuk permusuhan dengan sesama manusia.
Karena permusuhan itu penghalang diampuninya dosa.
Nabi salallahu Alaihissalam bersabda :
فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لاَ يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا إِلاَّ رَجُلاً كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ، فَيُقَالُ: أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا، أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا، أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا.”
Maka semua hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun akan diampuni dosa-dosanya, kecuali seseorang yang antara dia dan saudaranya terjadi permusuhan.
Lalu dikatakan, ‘Tundalah pengampunan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai, tundalah pengampunan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai, tundalah pengampunan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai.
”(HR. Muslim)
2. Tinjaulah Makanan kalian, pastikan kehalalannya. Sampai antum masuk pada bulan Ramadhan dengan makanan yang halal.
Karena makanan yang halal salah satu sebab diampuni dosa, dimudahkan untuk melakukan ketaatan kepada Allah.
Tidak layak bagi kaum muslimin yang puasa, tapi berbuka dengan makanan haram.
3. Latihlah diri antum dengan puasa dari sekarang (masih tersisa 17 hari lagi) meskipun hanya dengan puasa senin kamis.
4. Biasakan hati kalian dari sekarang untuk bisa melakukan qiyamul lail 11 rakaat meskipun dengan baca surat-surat pendek.
5. Biasakan mulai dari sekarang untuk rajin sedekah meskipun dengan 1 junaih (700 rupiah) , agar malaikat selalu mendoakanmu :
اَللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا
‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak.’ (Muttafaq Alaihi)
6. Jagalah lisan dari segala bentuk celaan, sehingga terbiasa tatkala bulan Ramadhan dengan lisan yang bersih dari umpatan.
7. Bacalah Al-Qur'an, jangan meningglakan Al-Qur'an.
وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا
Berkatalah Rasul: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan".
(QS. Al-Furqon : 30 ).
Bacalah 1 juz dari sekarang, jangan nunggu Ramadhan saja rajinnya.
8. Sambunglah silaturahmi mulai dari sekarang meskipun dengan hanya menelpon saudaramu.
9. Jagalah pandangan kalian terhadap wanita atau dari tontonan haram, jangan pandang manusia dengan pandangan syahwat, kedengkian atau menganggapnya remeh/mengolok-oloknya.
10. 3 Amalan yang tidak ada selain di bulan Ramadhan. Puasa Ramadhan, Qiyam Ramadhan dan Lailatul Qodr. Jangan sibuk dengan sinetron, semua film yang diputar pada bulan Ramadhan akan diulang, tapi perkara 3 tadi tidak bisa diulang kecuali antum masih hidup pada Ramadhan depannya.
Semoga kita menjadi golongan yang beruntung untuk dapat meraup ampunan sebanyak-banyaknya dari Allah Ta'ala.
بارك الله فيكم. ...
Kamis, 12 Desember 2024
Berpuasa Ramadhan Tapi Hanya Dapat Lapar dan Dahaga
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA—Pada Ramadhan umat Islam menjalankan ibadah puasa. Mereka tidak boleh melakukan hal-hal yang dapat membatalkan puasa seperti makan dan minum, berhubungan badan di siang hari.
Namun bagaimana dengan ungkapan para ulama atau ustadz bahwa jangan sampai berpuasa hanya mendapatkan lapar dan haus?
Ungkapan ini pada dasarnya, ada dasarnya. Hadits Rasulullah SAW menyampaikan mengenai hal ini, beliau bersabda:
Artinya, “Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan sesuatu dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR An-Nasa’i)
Rabu, 13 November 2024
Amanah Penguasa
Oleh AUNUR ROFIQ
Orang yang menerima amanah sebagai penguasa merupakan karunia dari Allah SWT. Segala perbuatannya akan dipertanggungjawabkan. Agar efektif menjadi penguasa, maka hendaknya ada beberapa kewajiban.
Selasa, 29 Oktober 2024
Sejarah Penamaan Rabiul Akhir dan Peristiwa Penting di Dalamnya
Rabiul Akhir atau Rabi‘uts Tsani merupakan bulan ke-4 dalam kalender Hijriah atau penanggalan berbasis bulan (lunar calendar), tepatnya setelah Rabiul Awwal, sebelum Jumadal Ula.
Pada zaman Jahiliyah, bulan Rabiul Akhir ini disebut dengan bulan Wubshan atau Wabshan. Bulan Rabiul Awwal disebut dengan bulan Khawwan atau Khuwwan. Sedangkan bulan Jumadil Ula disebut dengan al-Hanin. (Abu Bakar Muhammad, Jamhartul Lughah, [Beirut: Darul ‘Ilmi] 1987, jilid 3, hal. 1311).
Yang pertama memberi nama bulan Rabiul Akhir menurut satu pendapat adalah buyut kelima Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yakni Kilab bin Murrah. Penamaan itu tidak terlepas dari peristiwa alam musim rabi‘ atau musim semi yang terjadi di Jazirah Arab. Pada musim itu rerumputan menghijau, tanaman tumbuh subur, dan pepohonan banyak yang berbuah.
Selasa, 08 Oktober 2024
7 Peristiwa Penting yang Terjadi di Bulan Rabiul Akhir
Mengutip buku Doa dan Zikir Sepanjang Tahun karya Hamdan Hamedan, bulan Rabiul Akhir atau Rabi'uts Tsani, merupakan bulan keempat dalam kalender Hijriah. Pada zaman jahiliah, bulan ini dikenal sebagai Wubshan atau Wabshan.
Menurut satu riwayat, yang pertama memberi nama bulan Rabiul Akhir adalah buyut kelima Rasulullah SAW yang bernama Kilab bin Murrah. Penamaan itu berkaitan dengan kondisi alam pada musim rabi' atau musim semi di Jazirah Arab.
Dalam bahasa Arab, "rabbi" berarti musim semi, sementara "akhir" menggambarkan penghujung. Oleh karena itu, Rabiul Akhir dapat dimaknai sebagai akhir dari musim semi kedua.
Musim ini ditandai dengan rerumputan yang menghijau dan tanaman yang tumbuh subur, berlangsung sekitar dua bulan. Nama ini pun diberikan untuk menandai kedua bulan tersebut, yang kini dikenal dengan Rabiul Awal dan Rabiul Akhir.
Kamis, 26 September 2024
Keistimewaan Bulan Rabiul Awal: Kenapa Bulan Ini Begitu Penting
Bulan Rabiul Awal banyak dikenal sebagai bulan Maulid, di mana umat Islam memperingati hari kelahiran Rasulullah SAW, sosok yang diutus oleh Allah SWT sebagai rahmat bagi seluruh alam. Keistimewaan Bulan Rabiul Awal ini menjadikannya momen penting untuk meningkatkan ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Kelahiran Nabi Muhammad SAW sebagai Keistimewaan Bulan Rabiul Awal
Salah satu keistimewaan Bulan Rabiul Awal yang paling dikenal adalah kelahiran Nabi Muhammad SAW pada tanggal 12 Rabiul Awal. Allah SWT berfirman bahwa Nabi Muhammad SAW diutus sebagai rahmat bagi semesta alam (QS. Al-Anbiya: 107). Ayat ini menegaskan pentingnya kehadiran Rasulullah SAW sebagai pembawa rahmat dan petunjuk bagi umat manusia. Keistimewaan Bulan Rabiul Awal ini mendorong umat Islam untuk memperingati Maulid Nabi dengan memperbanyak shalawat, berdoa, dan mengenang ajaran-ajaran beliau.
Jumat, 20 September 2024
Keistimewaan Bulan Rajab: Waktu yang Suci untuk Mendekatkan Diri kepada Allah
Keistimewaan Bulan Rajab menjadi momen yang berharga dalam waktu mendekatkan diri kepada Allah SWT, dan mempersiapkan diri menghadapi bulan-bulan suci berikutnya. Dengan memanfaatkan keistimewaan Bulan Rajab, umat Islam dapat menguatkan ikatan spiritual mereka dan meraih keberkahan yang luar biasa dalam perjalanan hidup.
Keistimewaan Bulan Rajab ditandai dengan berbagai keistimewaan dan juga pahala bagi umat Muslim yang secara optimal bisa memanfaatkannya.
1. Isra Miraj
Keistimewaan Bulan Rajab jelas terkait dengan terkait dengan peristiwa Isra Miraj, di mana waktu itu peristiwa perjalanan malam Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa. Dan juga menembus Arsyi Allah SWT di langit ketujuh.
2. Bulan Kebaikan
Keistimewaan Bulan Rajab disebut juga dengan Al-Ashabb yang memiliki arti mengucur, karena bulan Rajab begitu deras kebaikan yang Allah SWT berikan, maka dari itu, janganlah menyia-nyiakan bulan Rajab tanpa berbuat banyak amal kebajikan.
3. Doa dan Ibadah
Umat Islam dianjurkan untuk meningkatkan kualtas ibadah wajib dan ibadah sunah lainnya, doa, dan dzikir selama Bulan Rajab. Momen ini menjadi kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan amalan-amalan kebaikan.
4. Disunahkan untuk Berpuasa
Melaksanakan puasa sunnah di Bulan Rajab juga dianjurkan karena seperti amalan yang bernilai pahala tinggi. Seain itu Puasa juga dimaksudkan dapat mendekatkan diri kepda Allah SWT dan dapat mensucikan diri membersihkan jiwa
5. Permohonan Ampunan
Keistimewaan Bulan Rajab ini dapat membuka pintu dalam taubat dan mohon ampunan (istigfar), dimana hal tersebut bisa membersihkan diri dari dosa dan kesalahan di masa lampau. Selain itu Keistimewaan Bulan Rajab juga menjadi waktu yang tepat untuk bersedekah dan memberikan kontribusi kepada yang membutuhkan.
Jumat, 26 Juli 2024
Ini Dialog Nabi Ibrahim Saat Bertemu Malaikat Pencabut Nyawa
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA- Para nabi dikisahkan kerap bertemu dengan malaikat, termasuk malaikat kematian. Termasuk Nabi Ibrahim alaihissalam menjelang kematiannya.
Kitab al-Fawaid wa az-Zuhdu wa ar-Raqaiq wal al-Maratsi halaman 29, Ja'far al-Khuldi, menukilkan sebuah riwayat tentang pertemuan Nabi Ibrahim dengan malaikat maut.
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ، ثنا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ، ثنا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عِيسَى، ثنا إِسْحَاقُ، ثنا جُوَبْيِرٌ، عَنِ الضَّحَّاكِ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: " لَمَّا أَرَادَ اللَّهُ، عَزَّ وَجَلَّ، يَقْبِضُ رَوْحَ خَلِيلِهِ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ هَبَطَ إِلَيْهِ مَلَكُ الْمَوْتِ، فَقَالَ لَهُ إِبْرَاهِيمُ: رَأَيْتَ خَلِيلًا يَقْبِضُ رُوحَ خَلِيلِهِ؟ قَالَ: فَعَرَجَ مَلَكُ الْمَوْتِ إِلَى رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ، ثُمَّ عَادَ إِلَيْهِ، فَقَالَ لَهُ: يَا إِبْرَاهِيمُ، وَرَأَيْتُ خَلِيلًا يَكْرَهُ لِقَاءَ خَلِيلِهِ؟ قَالَ: فَاقْبِضْ رُوحِي السَّاعَةَ "
Dikisahkan dari Ahmad, dari Hasan bin Ali, dari Ismail bin Isa, dari Ishaq, dari Juwaibir, dari ad-Dhahak, dari Inu Abbas, dia berkata, "Ketika Allah Azza Wa Jalla, hendak mencabut nyawa kekasih-Nya, Ibrahim, alaihissalam. Lalu malaikat maut berangkat menuju Nabi Ibrahim yang lantas bertanya kepada Sang Malaikat. "Apakah engkau melihat seorang kekasih mencabut nyawa kekasihnya? Ibnu Abbas berkata, "Malaikat maut kembali naik menuju Tuhannya SWT, kemudian kembali lagi kepada Nabi Ibrahim dan berkata, "Wahai Ibrahim menurutku bagaimana mungkin seorang kekasih tidak suka bertemu Kekasihnya? Ibrahim lantas menjawab, "Cabutlah nyawaku segera."
Riwayat ini menegaskan kerinduan Nabi Ibrahim AS bertemu dengan Allah SWT. Kematian bukanlah akhir dari segala kehidupan yang dia jalani. Dan satu hal lagi, bahwa ajal ada keniscayaan untuk segenap makhluk-Nya.
Kematian adalah keniscayaan yang akan dihadapi setiap umat manusia. Menghadapi kematian, bukan perkara ringan. Bahkan saat sakratul maut manusia akan menghadapi masa-masa kritis.
Masa kritis yang dihadapi ketika sakaratul maut tersebut, terungkap dari sejumlah dalil dari Alquran dan hadits berikut ini:
Langganan:
Postingan (Atom)



















