Selasa, 16 Desember 2025

3 Hal yang Dibenci Allah

 


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Allah SWT menyuruh manusia agar mereka beriman dan bertakwa kepada-Nya. Umumnya, para ulama mendefinisikan takwa sebagai berikut. Menjaga diri dari perbuatan maksiat, meninggalkan dosa syirik, perbuatan keji, dan dosa-dosa besar. Dalam pengertian lain, takwa ialah melaksanakan segala perintah Allah serta menjauhi segala larangan-Nya.

Berkaitan dengan itu, ada sejumlah perkara yang disukai oleh Allah. Dan, ada pula hal-hal yang dibenci-Nya. Dari Abu Hurairah RA, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah meridhai kalian dalam tiga perkara dan benci kepada kalian dalam tiga perkara

Allah meridhai kalian jika kalian (pertama) beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. (Kedua) jika kalian berpegang teguh kepada agama-Nya dan tidak berpecah belah. (Ketiga) jika kalian saling menasihati kepada orang yang diserahkan kepadanya urusanmu.”

Kabar angin

Rabu, 12 November 2025

Mencanangkan Kembali Ronda Malam



 

Takut Hanya kepada Allah



REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Setiap orang pasti pernah merasakan takut, mulai dari takut digigit ular, takut kehilangan jabatan, hingga takut kepada Tuhan. Dalam psikologi agama, sebagian manusia mencari dan membutuhkan Tuhan, antara lain, karena adanya rasa takut dalam diri terhadap kekuatan gaib.

Manusia takut kepada kekuatan dahsyat yang ada di alam raya ini, seperti gunung meletus, angin puting beliung, banjir bandang, tsunami, dan sebagainya sehingga membuatnya mencari pelindung, pemberi rasa aman dan keselamatan hidupnya.

Secara psikologis, takut adalah kondisi psikis (kejiwaan) yang diliputi rasa khawatir, kegalauan, ketakutan, waswas, atau kurang nyaman terhadap sesuatu yang tidak disukainya itu jika terjadi pada dirinya. Takut bisa saja menjadi energi positif jika dimaknai secara positif, demikian pula sebaliknya.

Kata takut dalam Alquran, antara lain, dinyatakan dengan khauf dan khasyyah. Kata khauf lebih umum daripada kata khasyyah.

Rabu, 01 Oktober 2025

Nasihat Nabi agar Umatnya Tenang Jalani Hidup di Dunia



REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pesona dunia kerap membuat seseorang lupa akan hakikat hidup di dunia. Sehingga, menjadikannya lalai dalam melakukan tugas dan kewajiban sebagai seorang hamba, yaitu beribadah kepada Allah SWT. Padahal, kehidupan dunia tak lebih hanya permainan dan senda gurau belaka (QS Muhammad [47]: 36).

Tak heran bila kemudian Rasulullah SAW selalu mengingatkan umatnya untuk menyikapi hidup di dunia ini sebagai ladang berbekal, dan sebaik-baiknya bekal adalah takwa kepada Allah SWT. (QS Al-Baqarah [2]: 197).

Oleh karena itu, Ibnu Umar RA mengambil wasiat dari Rasulullah untuk menggunakan setiap kesempatan guna berbekal. ''Jika kamu berada di masa sore, jangan menunggu waktu pagi. Dan jika kamu berada di waktu pagi, jangan menunggu masa sore. Manfaatkanlah masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, dan masa hidupmu sebelum datang kematianmu" (HR Bukhari).

Menjadikan hidup di dunia hanya sebagai ladang berbekal akan menimbulkan perasaan bahwa hakikat diri adalah asing di dunia dan tidak mungkin menetap selamanya. Diri tidak lagi terpikat pada segala sesuatu yang menggoda di tempat persinggahan sementaranya itu. Hatinya hanya terpaut pada tujuan yang akan menjadi tempat kembalinya kelak. Bahkan, dia akan menganggap dirinya seperti 'musafir' yang ingin terus melanjutkan perjalanan hingga batas akhir tujuan, yaitu kehidupan abadi di akhirat.

Memahami kehidupan di dunia ini layaknya musafir, telah diajarkan oleh Rasulullah melalui sabdanya, ''Aku tidak memiliki kecenderungan (kecintaan) terhadap dunia. Keberadaanku di dalam dunia seperti seorang musafir yang berteduh di bawah pohon, kemudian pergi dan meninggalkan pohon tersebut" (HR Tirmidzi).

Oleh karena itu, wajib bagi seorang Mukmin untuk bersegera melakukan kebaikan sebelum dia tidak mampu lagi untuk melakukannya, baik karena menderita sakit atau karena kematian yang menjemput.

Dan di saat manusia terhalang untuk melakukan amal kebaikan, maka yang tersisa hanyalah penyesalan dan kesedihan. Dia hanya bisa berandai untuk kembali sehat atau hidup lagi, padahal harapan itu sia-sia belaka.

Firman-Nya: "Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka (orang-orang kafir), dia berkata, 'Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia). Agar aku berbuat amal saleh terhadap apa yang telah aku tinggalkan'. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding hingga hari mereka dibangkitkan" (QS Al-Mukminun [23]: 99-100).