Rabu, 21 Oktober 2020

Wasiat Penting Imam Syafi'i Menjelang Kematiannya



REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Imam Syafi'i merupakan salah satu ulama kelahiran Palestina yang memiliki peran penting dalam sejarah pemikiran Islam. Dialah sang peletak dasar mazhab fikih Syafii, salah satu dari empat mazhab yang dianut kalangan ahlus sunnah wa al-jama'ah (Aswaja).

Nama lengkapnya Muhammad bin Idris bin 'Abbas bin 'Usman bin Syaafi' bin Saaib bin 'Ubaid bin 'Abdu Yazid bin Haasyim bin 'Abdul Mutthalib bin 'Abdul Manaf. Dia dilahirkan di Ghaza pada pada 150 Hijriyah dan meninggal dunia di Fusthat, Mesir, pada 204 Hijriyah atau 819 Masehi. 

Menjelang kematiannya, Imam Syafi'i pun memberikan nasihat penting kepada muridnya, Al-Muzanni. Imam Syafi'i mewasiatkan kepada muridnya agar selalu bertakwa kepada Allah, mengingat akhirat, mengikuti kebenaran, sabar menghadapi musibah, dan berbuat baik. 

Berikut nasihat Imam Syafi'i menjelang kematiannya, seperti dikutip dari buku Biografi Imam Syafi’i: Kisah Perjalanan Hidup Sang Mujtahid karya Tariq Suwaidan.

Imam Syafi'i berkata, "Bertakwalah kepada Allah dan ingatlah selalu akhirat dalam hatimu. Jadikan kematian selalu di matamu dan jangan lupa keadaanmu kelak di hadapan Allah. Jadilah selalu bersama Allah dan jauhi larangan-Nya. Tunaikan kewajiban-Nya dan berjalanlah di jalan keberanan di mana pun kau berada."

Imam Syafi'i melanjutkan, "Jangan kau anggap remeh nikmat Allah kepadamu, walaupun sedikit. Terimalah ia dengan rasa syukur. Jadikan diammu sebagai tafakur, bicaramu sebagai dzikir, dan pandanganmu sebagai usaha mengambil pelajaran. Maafkan orang yang menzalimimu. Jalin silaturahim dengan orang yang memutuskannya, bersikaplah baik kepada orang yang bersikap buruk kepadamu, bersabarlah atas musibah, dan mintalah ampunan Allah dari neraka dengan takwa." 

Al-Muzanni meminta lagi tambahan nasihat dari gurunya itu. Imam Syafi'i pun melanjutkan nasihatnya dengan berkata, "Jadikan kejujuran sebagai lisanmu, menjaga amanat sebagai tiangmu, rahmat sebagai buahmu, syukur sebagai pembersihmu, kebenaran sebagai perniagaanmu, kasih sayang sebagai hiasanmu, Alquran sebagai kecerdasanmu, ketaatan sebagai hidupmu, keridaan sebagai amanatmu, pemahaman sebagai mata hatimu, harapan sebagai kesabaranmu, dan takut sebagai pakaianmu."

Imam Syafi'i melanjutkan, "Jadikan sedekah sebagai pelindungmu, zakat sebagai bentengmu, rasa malu sebagai pemimpinmu, kesabaran sebagai menterimu, tawakkal sebagai tamengmu, dunia sebagai penjaramu, kemiskinan sebagai tempat tidurmu, kebenaran sebagai penuntunmu, haji dan jihad sebagai tujuanmu, Alquran sebagai temenmu berbicara, dan Allah sebagai penghiburmu. Barangsiapa menjadikan semua ini menjadi sifatnya maka surga akan menjadi tempatnya," ujar Imam Syafi'i. 

Agar Hati Selalu Gembira

 


Bismillaah...

Agar Hati selalu gembira/happynies menurut Al Quran surat Ar Ra'd(13): ayat 28...Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah *hati* menjadi *tenteram*
Ada 3 jenis *Hati/Qolbu* menurut Al Quran :
1. *Qolbun Saliym*
atau *hati yang suci* Qs.As Shaffat(37):84...(Ingatlah) ketika ia datang kepada Rabb-nya dengan *hati yang suci*
Maksud: "datang kepada Tuhannya" ialah mengikhlaskan *hatinya* kepada Allah dengan sepenuh-penuhnya.
Ini berkaitan dengan ayat (99 sd 103).....kisah Ibrahim memohon anugerah *anak yang shaleh dan shabar*
2. *Qolbun Maridl*
atau *Hati yang Sakit* Qs.Albaqarah(2):10...Dalam *hati mereka ada penyakit* , lalu ditambahkan Allah penyakitnya, dan bagi mereka *siksa yang pedih*, disebabkan mereka berdusta.
Maksud : *penyakit* yakni keyakinan mereka terhadap *kebenaran* Nabi Muhammad Saw lemah, itu menimbulkan kedengkian,iri-hati, dan dendam thdp Nabi Saw, agama, dan orang-orang Islam.
3. *Qolbun Mayyit*
atau *Hati yang Mati* Qs.Albaqarah(2):7...Allah telah *mengunci-mati hati* dan pendengaran mereka dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka *siksa yang amat berat*
Semoga bermanfa'at dan mendapat hidayah dari Sang Khaliq Yang Maha Perkasa dan Maha Pengampun..
Wallahu'alam bishshawab...
🙏🏻

Jumat, 16 Oktober 2020

_*POSTINGAN YANG RIYA ATAU KITA YANG TERLAMPAU SUUDZON*_



 _*POSTINGAN YANG RIYA ATAU KITA YANG TERLAMPAU SUUDZON*_

Andai orang lain tak memposting kegiatan sedekah nasi bungkus di hari Jumat, kita mungkin nggak kepikiran untuk melakukan hal yang sama.
Andai orang lain nggak pernah memposting foto foto keindahan bumi Alloh tempat dia travelling, kita mungkin nggak akan tau kalo ciptaan Allkh itu bener bener Maha Indah.
Andai orang lain nggak memposting resep resep keren beserta foto masakan jadinya, mungkin menu kita hanya Telor dadar, Telor ceplok saja, nggak kepikiran buat menvariasikan menjadi beragam rasa.
Andai orang lain nggak memposting sedekah seragam sekolah bersih ke sekolah sekolah yang mayoritas muridnya adalah kaum dhuafa, andai dia nggak memposting kegembiraan ananda dhuafa menerima seragam baru, setelah bertahun tahun hanya memiliki 1 seragam yg udah koyak, udah kekecilan, udah tak lengkap kancingnya...mungkin kita nggak akan kepikiran melakukan sedekah yang sama.
Andai orang lain tak memposting kegiatan mereka membagikan alquran ke mushola mushola kampung, ke TPA TPA, ke majlis ta'lim, ke pesantren pesantren, dan kemudian alquran itu sampai pada tangan yg tepat, selalu dibaca, sehingga insyaallah menjadi amalan sedekah jariyah, mungkin kita gak akan kepikiran bersedekah dengan cara yang sama.
Kalau orang lain nggak pernah memposting foto foto Mesjid Nabawi, foto foto Mesjidil Haram, nggak menceritakan ketentraman bathin yang mereka rasakan selama ibadah disana, mungkin kita nggak akan pernah disentuh oleh rindu yang dahsyat untuk juga ingin melakukan ibadah yg sama disana.
Postingan postingan orang lain, acapkali membuka cakrawala pikiran kita, bahwa sedekah itu banyak jenisnya, nggak sekedar sedekah ala konvensional memberi sekian ribu pada pengemis yg mengetuk pintu atau meminta di pinggir jalan.
Andai kita bisa menerima setiap postingan orang lain sebagai wahana meningkatkan kualitas diri kita menjadi hamba Allah yg lebih baik dari hari ke hari.
*Tapi... kalau segalanya kita tuduh riya, kalau semua tulisan kita sangka pamer,* lalu postingan postingan itu tak ada lagi, lalu dari mana kita bisa tau pengalaman pengalaman hebat orang lain?
Kalau seluruh goresan kegiatan baik, tak ada lagi yang share atau posting, lalu bagaimana kita bisa belajar kalau segala hal hebat hanya untuk dipendam?
*Urusan niat, biarlah menjadi urusan mereka dengan Allah saja, tak perlu kita mengintervensi urusan hati seorang hamba dengan Tuhannya.*
Kita nggak perlu repot repot memastikan orang lain mampu memanage niat postingannya, cukuplah kita memanage hati kita saja untuk nggak gampang menuduh orang lain riya, cukuplah kita memanage hati kita saja agar selalu positif dan terbuka menerima hal hal baik yang disampaikan orang lain.
Adalah suatu hak positif kalau kita mengingatkan orang lain untuk tulus, tapi akan lebih bernilai positif lagi kalau kita juga selalu mengingatkan hati sendiri untuk tak gampang menuduh/memvonis negatif.
*Andai dia riya, lalu pahala sedekahnya menguap bak embun di jemur cahaya, mungkin dia mendapat ganti pahala karena dia telah menginspirasi orang lain untuk melakukan kegiatan baik seperti postingannya.*
Andai dia pamer, lalu kehilangan pahala atas pamernya, tapi postingannya bisa jadi menjadi sumber ilmu pengetahuan bagi pembacanya. Lalu dia taubat sama Alloh atas sikap pamer yang pernah dia lakukan, dan Alloh mengampuninya, lalu postingan yang telah di-share kemana mana itu Alloh hitung sebagai amalan jariyah sebagai Ilmu yang bermanfaat bagi khalayak, bisa saja kan?
Semoga di sisa umur kita, sampai ujung usia, sampai akhirnya nyawa tak lagi bersatu di raga, kita semua menjadi bagian penghuni bumi yang selalu membawa kebaikan dan kebermanfaatan. Aamiin.
Semangat....
Tetap berlomba-lomba lah dalam kebaikan dan Amal Sholeh.
Semoga Alloh merahmati kita semua. Aamiin..

*Mustajabnya doa orang tua pada anaknya*



 *Mustajabnya doa orang tua pada anaknya*

Dari Anas bin Malik radhiallahu'anhu, Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda:
ثلاثُ دَعَواتٍ لا تُرَدُّ : دعوةُ الوالدِ ، و دعوةُ الصائمِ ، و دعوةُ المسافرِ
"Ada tiga doa yang tidak tertolak:
[1] doa orang tua (kepada anaknya)
[2] orang orang yang berpuasa
[3] doa orang yang sedang safar"
(HR. Al Baihaqi dalam Sunan-nya no. 6619, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah).
Dalam riwayat lain :
ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ : دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِه
"Ada tiga doa yang mustajab tanpa diragukan lagi:
[1] doa orang yang terzalimi
[2] doa orang yang sedang safar
[3] doa orang tua kepada anaknya"
(HR. At Tirmidzi no. 1905, dihasankan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi).
Hadits ini menunjukkan doa orang tua kepada anaknya itu mustajab. Baik doa ayah maupun doa ibu. Namun doa ibu lebih mustajab lagi. Al Munawi rahimahullah menjelaskan:
( ودعوة الوالد لولده ) لأنه صحيح الشفقة عليه ، كثير الإيثار له على نفسه ، فلما صحت شفقته : استجيبت دعوته ، ولم يذكر الوالدة مع أن آكدية حقها تؤذن بأقربية دعائها إلى الإجابة من الوالد ؛ لأنه معلوم بالأولى
"[doa orang tua kepada anaknya] diijabah karena rasa sayang orang tua yang tulus kepada anaknya, dan orang tua banyak mendahulukan anaknya daripada dirinya sendiri. Sehingga kita doa disertai rasa sayang yang tulus, mengakibatkan dikabulkan doanya.
Dalam hadits ini tidak disebutkan lafadz "al walidah" (ibu) padahal ibu lebih ditekankan lagi haknya dan lebih besar kemungkinan dikabulkan doanya daripada ayah, ini dikarena keutamaan ibu sudah ma'lum (diketahui semua orang)" (Faidhul Qadir, 3/301).
Yang perlu kita camkan setelah mengetahui ini:
* Carilah doa kebaikan dari orang tua anda.
* Berusahalah agar orang tua tidak mendoakan keburukan pada anda.
* Doakan kebaikan bagi anak-anak anda.
* Tahan lisan dari doa keburukan terhadap anak-anak anda.
Semoga Allah memberi taufik.