Kamis, 23 April 2015

Inspirasi dari jalur kereta api



Seorang Guru Besar China, Mo Tzu MEMARAHI muridnya dg sangat KERAS. Krn muridnya TIDAK TAHAN dg perlakuan Mo Tzu, Ia menyatakan KEBERATANNYA, katanya, "Guru, KESALAHAN yg saya LAKUKAN tidak sebesar KESALAHAN yg dilakukan ORANG LAIN, kenapa Guru begitu KEJAM MEMARAHI saya?" Mo Tzu menjawab, "Jika kamu hendak MENDAKI Gunung Taishan, ada seekor KUDA dan seekor KAMBING, kamu lebih memilih MENCAMBUK KUDA atau MENCAMBUK KAMBING?" Murid itu menjawab,”Tentu saya akan MENCAMBUK KUDA." Mo Tzu bertanya lagi, "Kenapa kamu TIDAK PILIH MENCAMBUK KAMBING ?” “KUDA dapat lari dg CEPAT sedangkan KAMBING tidak punya KEMAMPUAN seperti KUDA” Jawab murid itu. "Aku MEMARAHI karena kamu seperti KUDA bukan KAMBING. Kamu harus DIDIDIK dg KERAS dg KRITIK dan NASEHAT, supaya kamu bisa MAJU dan BERKEMBANG. Menjadi lebih KUAT dan memiliki KEMAMPUAN yg HEBAT dlm menghadapi setiap MASALAH.” Proses PENDIDIKAN dan PEMBENTUKAN KARAKTER ini berlangsung setiap WAKTU, bahkan akan terus berlangsung SEUMUR HIDUP kita. Hal itu mungkin akan membuat kita SAKIT, SEDIH, dan MENDERITA. Saat itulah kita sering ber-tanya2, "Kenapa hal ini TERJADI padaku?" Kita sudah merasa BERUSAHA sebaik mungkin, namun se-olah2 yg kita TERIMA justru SEBALIKNYA. “PERCAYALAH, pendidikan yang baik meskipun keras akan SELALU mendatangkan KEBAIKAN dlm HIDUP kita.”

🌿 "BELAJAR DR MERBOT MASJID" 🌿

Dari : Ustadzah Nourma Yusnida 

Ada dua sahabat yang terpisah cukup lama; Ahmad dan Zaenal. Ahmad ini pintar sekali. Cerdas. Tapi dikisahkan kurang beruntung secara ekonomi. Sedangkan Zaenal adalah sahabat yang biasa-biasa saja. Namun keadaan orang tuanya mendukung karir dan masa depan Zaenal. Setelah terpisah cukup lama, keduanya bertemu. Bertemu di tempat yang istimewa; di koridor wudhu, koridor toilet sebuah masjid mungil. Adalah Zaenal, sudah menjelma menjadi seorang manager kelas menengah. Necis. Perlente. Tapi tetap menjaga kesalehannya. Ia punya kebiasaan. Setiap keluar kota, ia sempatkan singgah di masjid di kota yang ia singgahi. Untuk memperbaharui wudhu, dan sujud syukur. Syukur-syukur masih dapat waktu-waktu yang diperbolehkan shalat sunnah, maka ia shalat sunnah juga sebagai tambahan. Seperti biasa, ia tiba di satu kota. Ia mencari masjid. Ia pinggirin mobilnya, dan bergegas masuk ke masjid yang ia temukan. Di sanalah ia menemukan Ahmad. Cukup terperangah Zaenal ini. Ia tahu sahabatnya ini meski berasal dari keluarga tak punya, tapi pintarnya minta ampun. Zaenal tidak menyangka bila berpuluh tahun kemudian ia menemukan Ahmad sebagai merbot masjid! “Maaf,” katanya menegor sang merbot. “Kamu Ahmad kan? Ahmad kawan SMP saya dulu?”. Yang ditegor tidak kalah mengenali. Lalu keduanya berpelukan. “Keren sekali Kamu ya Mas… Manteb…”. Zaenal terlihat masih dalam keadaan memakai dasi. Lengan yang digulungnya untuk persiapan wudhu, menyebabkan jam bermerknya terlihat oleh Ahmad. “Ah, biasa saja…”. Zaenal menaruh iba. Ahmad dilihatnya sedang memegang kaen pel. Khas merbot sekali. Celana digulung, dan peci didongakkan sehingga jidat hitamnya terlhat jelas. “Mad… Ini kartu nama saya…”. Ahmad melihat. “Manager Area…”. Wuah, bener-bener keren. “Mad, nanti habis saya shalat, kita ngobrol ya. Maaf, di kantor saya ada pekerjaan yang lebih baik dari sekedar merbot di masjid ini. Maaf…”. Ahmad tersenyum. Ia mengangguk. “Terima kasih ya… Nanti kita ngobrol. Selesaikan saja dulu shalatnya. Saya pun menyelesaikan pekerjaan bersih-bersih dulu… Silahkan ya. Yang nyaman”. Sambil wudhu, Zaenal tidak habis pikir. Mengapa Ahmad yang pintar kemudian harus terlempar dari kehidupan normal. Ya, meskipun tidak ada yang salah dengan pekerjaan sebagai merbot, tapi merbot… ah, pikirannya tidak mampu membenarkan. Zaenal menyesalkan kondisi negerinya ini yang tidak berpihak kepada orang-orang yang sebenernya memiliki talenta dan kecerdasan, namun miskin. Air wudhu membasahi wajahnya… Sekali lagi Zaenal melewati Ahmad yang sedang bebersih. Andai saja Ahmad mengerjakan pekerjaannya ini di perkantoran, maka sebutannya bukan merbot. Melainkan “office boy”. Tanpa sadar, ada yang shalat di belakang Zaenal. Sama-sama shalat sunnah agaknya. Ya, Zaenal sudah shalat fardhu di masjid sebelumnya. Zaenal sempat melirik. “Barangkali ini kawannya Ahmad…”, gumamnya. Zaenal menyelesaikan doanya secara singkat. Ia ingin segera bicara dengan Ahmad. “Pak,” tiba-tiba anak muda yang shalat di belakangnya menegur. “Iya Mas..?” “Pak, Bapak kenal emangnya sama Haji Ahmad…?” “Haji Ahmad…?” “Ya, Haji Ahmad…” “Haji Ahmad yang mana…?” “Itu, yang barusan ngobrol sama Bapak…” “Oh… Ahmad… Iya. Kenal. Kawan saya dulu di SMP. Emangnya udah haji dia?” “Dari dulu udah haji Pak. Dari sebelumnya bangun ini masjid…”. Kalimat itu begitu datar. Tapi cukup menampar hatinya Zaenal… Dari dulu sudah haji… Dari sebelumnya bangun masjid ini… Anak muda ini kemudian menambahkan, “Beliau orang hebat Pak. Tawadhu’. Saya lah yang merbot asli masjid ini. Saya karyawannya beliau. Beliau yang bangun masjid ini Pak. Di atas tanah wakafnya sendiri. Beliau bangun sendiri masjid ini, sebagai masjid transit mereka yang mau shalat. Bapak lihat toko material di sebelah masjid ini… Itu toko nya beliau. Tapi beliau lebih suka menghabiskan waktunya di sini. Bahkan salah satu kesukaannya, aneh. Yaitu senangnya menggantikan posisi saya. Karena suara saya bagus, kadang saya disuruh mengaji saja dan azan…”. Wuah, entahlah apa yang ada di hati dan di pikirannya Zaenal… Bagaimana menurut kita ? Jika Ahmad itu adalah kita, mungkin begitu ketemu kawan lama yang sedang melihat kita ngebersihin toilet, segera kita beritahu posisi kita siapa yang sebenernya. Dan jika kemudian kawan lama kita ini sampe menyangka kita merbot masjid beneran, maka kita akan menyangkal dan kemudian menjelaskan secara detail begini dan begitu. Sehingga tahulah kawan kita bahwa kita inilah pewakaf dan yang ngebangun masjid ini. Tapi kita bukan Haji Ahmad. Dan Haji Ahmad bukannya kita. Ia selamat dari kerusakan amal, sebab ia cool saja. Tenang saja. Adem. Haji Ahmad merasa tidak perlu menjelaskan apa-apa. Dan kemudian Allah yang memberitahu siapa dia sebenarnya... Subhaanallaah.... "Al mukhlishu, man yaktumu hasanaatihi kamaa yaktumu sayyi-aatihi" "Org yg ikhlas itu adah org yg menyembunyikan kebaikan2nya, sprti ia menyembunyikan keburukan2nya..." 

Rabu, 22 April 2015

Apakah Sudah Ada yang Memberinya Makan?

pohon padang lapangan matahari sinar

SEORANG lelaki Arab bernama Tsumamah bin Itsal dari Kabilah Al Yamamah pergi ke Madinah dengan tujuan hendak membunuh Nabi Shalallahu alaihi wa sallam. Segala persiapan telah matang, persenjataan sudah disandangnya, dan ia pun sudah masuk ke kota suci tempat Rasulullah tinggal itu.
Dengan semangat meluap-luap ia mencari majlis Rasulullah, langsung didatanginya untuk melaksanakan maksud tujuannya.

Selasa, 21 April 2015

Ini Bedanya Zakat, Infak dan Sedekah

“DAN belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik” (Q.S. Al-Baqarah 2:195)
Dalam istilah membelanjakan harta dijalan Allah, tersebutlah tiga ibadah yaitu zakat, infak, dan sedekah. Meskipun seperti sama, beberapa ibadah tersebut ternyata memiliki makna masing-masing yang agak sedikit berbeda.
Zakat adalah nama bagi sejumlah harta tertentu yang telah mencapai syarat tertentu yang diwajibkan oleh Allah untuk dikeluarkan dan diberikan kepada yang berhak menerimanya dengan persyaratan tertentu pula.
Setiap harta yang sudah dikeluarkan zakatnya akan menjadi suci, bersih, baik, berkah, tumbuh, dan berkembang (at-Taubah: 103, dan ar-Rum: 39).

Siapa K.H. As’ad Humam, Kakek Dibalik Sampul Buku Iqro?

 
PERNAH memperhatikan sampul belakang buku iqro, ada foto seorang kakek yang memegang tongkat. Tahukah siapa beliau? Beliau adalah K.H. As’ad Humam.
Memang tak banyak orang yang mengenal K.H. As’ad Humam. K.H. As’ad Humam lahir pada tahun 1933. Beliau mengalami cacat fisik sejak remaja. Beliau terkena penyakit pengapuran tulang belakang, dan harus menjalani perawatan di Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta selama satu setengah tahun. Penyakit inilah yang dikemudian hari membuat As’ad Humam tak mampu bergerak secara leluasa sepanjang hidupnya. Hal ini dikarenakan sekujur tubuhnya mengejang dan sulit untuk dibungkukkan. Dalam keseharian, sholatnya pun harus dilakukan dengan duduk lurus, tanpa bisa melakukan posisi ruku’ ataupun sujud. Bahkan untuk menengok pun harus membalikkan seluruh tubuhnya. Beliau juga bukan seorang akademisi atau kalangan terdidik lulusan Pesantren atau Sekolah Tinggi Islam, beliau hanya lulusan kelas 2 Madrasah Mualimin Muhammadiyah Yogyakarta (Setingkat SMP).