Oleh: Ina Salma Febriani
Ilustrasi
“Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman: "Hendaklah
mereka mendirikan shalat, menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan
kepada mereka secara sembunyi ataupun terang-terangan sebelum datang
hari (kiamat) yang pada bari itu tidak ada jual beli dan persahabatan.”
(QS Ibrahim: 31).
Sejatinya, hidup adalah menanti. Menanti
giliran kapan kita kembali kehadirat Illahi Rabbi. Penantian panjang
menuju hari akhir memerlukan perbekalan dengan sungguh-sungguh, tidak
sekedar main-main.
Sebab, siapa yang menjadikan hidup ini sebagai
senda gurau dan permainan, tanpa perbekalan berarti—maka Allah pun akan
melupakannya di hari yang sangat berat bagi seluruh makhluk.
“Yaitu
orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda
gurau, kehidupan dunia telah menipu mereka. Maka pada hari (kiamat) ini,
Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka
dengan hari ini, dan (sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-ayat
Kami.” (QS Al-A’raf: 51).
Di hari kiamat nanti, kita akan
bertemu dengan-Nya dalam keadaan yang berbeda-beda, sesuai dengan amal
ibadah kita. Ada yang wajahnya putih bersinar, ada pula yang wajahnya
hitam legam.